Kesehatan adalah hal yang paling berharga dalam hidup meskipun banyak diantara kita yang tidak menyadarinya sebelum "sehat" itu mulai berganti dengan berbagai penyakit baik yang ringan ataupun penyakit kronis.
Sebelum hal itu terjadi ada 10 cara agar kita bisa hidup sehat :
Perbanyak makan sayuran dan buah-buahan karena kandungan dalam sayur dan buah dapat memperlancar saluran usus dan mencegah Konstipasi/kembung.
Kurangi makanan berlemak karena kalau lemak terlalu banyak maka peredaran darah di pembuluh darah jadi terhambat.
Makan teratur dan jangan makan/minum sembarangan untuk memperkuat pencernaan kita.
Jangan terlalu pilih makanan yang penting Vitaminnya cukup dan Gizi berimbang.
Usahakan masakan jangan terlalu asin lebih baik sedikit tawar karena kelebihan konsumsi garam menjadikan pembuluh darah tidak sehat.
Banyak minum air matang selain untuk kesehatan juga dapat mempertahankan kehalusan kulit dan wajah akan tampak berseri-seri.
Tidak minum alkohol dan tidak merokok sehingga jantung dan paru-paru kita sehat dan hidup lebih santai dan terbebas dari rasa risau.
Perbanyak Olah raga agar badan kuat, jantung sehat dan pikiran kita lebih tenang.
Seimbangkan aktifitas kita dengan mengatur waktu kerja dan istirahat. Disiplinkan diri dengan mengharmoniskan badan dan pikiran.
Hindari emosi berlebihan, jangan suka marah perbanyak tertawa sehingga hati kita lapang dan banyak orang menyukai kita.
Suatu keadaan sakit yang menurut akal sehat klien lansia itu tidak dapat lagi atau tiada harapan lagi untuk sembuh (Nugroho, 2000).
2.Pengertian kematian / mati.
Seseorang yang dianggap sudah mati ialah apabila ia tidak lagi mempunyai denyut nadi, tidak bernafas selama beberapa menit dan ketiadaan segala refleks, serta ketiadaan kegiatan otak (Nugroho 2000).
1.Gerakan dan penginderaan menghilang secara berangsur – angsur. Biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki.
2.Gerakan peristaltik usus menurun
3.Tubuh lansia tampak menggembung
4.Badan dingin dan lembab terutama pada kaki, tangan, dan ujung hidung.
5.Kulit nampak pucat, berwarna kebiru – biruan / kelabu
6.Denyut nadi mulai tidak teratur
7.Nafas dengkur berbunyi keras (stridor) yang disebabkan oleh adanya lendir pada saluran pernafasan yang tidak dapat dikeluarkan oleh klien lansia.
8.Tekanan darah menurun
9.Terjadi gangguan kesadaran (ingatan menjadi kabur).
Tanda – Tanda Kematian
1.Pupil (bola mata) tetap membesar atau melebar dan tidak berubah – ubah
2.Hilangnya semua reflek dan ketiadaan kegiatan otak yang tampak jelas dalam hasil pemeriksaan EEG yang menunjukkan mendatar dalam waktu 24 jam.
Tahap – Tahap Menuju Kematian
1.Tahap pertama (tahap penolakan)
Adalah tahap kejutan dan penolakan. Biasanya sikap itu ditandai dengan komentar; Saya ? tidak, tak mungkin. Selama tahap ini klien lansia sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang kecuali dia.
2.Tahap Kedua (tahap marah)
Tahap ini ditandai oleh rasa amarah dan emosi yang tidak terkendalikan. Klien lansia itu berkata; mengapa saya ? seringkali lansia akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal.
3.Tahap ketiga (tawar – menawar)
Pada tahap ini lansia pada hakekatnya berkata ; ya, benar, aku, tetapi,……..kemarahan biasanya mereda dan lansia dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
4.Tahap keempat (tahap sedih)
Tahap ini lansia pada hakekatnya berkata; “ya, benar aku”, ini biasanya merupakan sat – saat yang sedih, karena lansia sedang dalam suasana berkabung karena dimasa lamapau ia sudah kehilangan orang yang dicintai dan sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri.
5.Tahap kelima (tahap akhir / tahap menerima)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian.
Hak – Hak Pasien Yang Menjelang Ajal (Meninggal)
1.Berhak untuk diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai mati
2.Berhak untuk tetap merasa punya harapan, meskipun fokusnya dapat saja berubah – ubah.
3.Berhak dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus harapan itu, walaupun dapat berubah-ubah.
4.Berhak merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian yang sudah mendekat dengan caranya sendiri.
5.Berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai perawatannya.
6.Berhak untuk mengharapkan akan terus mendapat perhatian medis dan perawatan walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa aman.
7.Berhak untuk tidak mati dalam kesepian
8.Berhak untuk bebas dalam rasa nyeri
9.Berhak untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan – pertanyaan
10.Berhak untuk tidak ditipu
11.Berhak untuk mendapat bantuan dari dan untuk keluarganya dalam menerima kematian.
12.Berhak untuk mati dengan tenang dan terhormat
13.Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak dihakimi untuk keputusan-keputusan yang mungkin saja bertentangan dengan orang lain
14.Membicarakan dan memperluas pengalaman – pengalaman keagamaan dan kerohanian
15.Berhak untuk mengharapkan bahwa kesucian tubuh manusia akan dihormati sesudah mati.
Dewasa ini pembangunan di bidang kesehatan telah mengalami perkembangan yang begitu pesat, serta kesehatan sudah menjadi sebuah hal yang harus diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Melihat kondisi yang demikian sudah seharusnya bukan hanya tenaga kesehatan saja yang menjadi penanggung jawab kesehatan, tetapi kesehatan merupakan tanggung jawab semua masyarakat. Siapapun masyarakat tersebut secara individu atau berkelompok mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan tenaga kesehatan terhadap upaya menciptakan terwujudnya kesehatan masyarakat itu sendiri.
Keluarga merupakan unit terkecil yang ada di masyarakat. Ini berarti keluarga merupakan kelompok yang secara langsung berhadapan dengan anggota keluarga selama 24 jam penuh. Menurut Mubarok (2007) peran keluarga adalah mampu mengenal masalah kesehatan, mampu membuat keputusan tindakan, mampu melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mampu memodifikasi lingkungan rumah, dan mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan yang meliputi:
a.Mengenal masalah kesehatan
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti dan karena kesehatanlah seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung akan menjadi perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan dalam keluarga (Suprajitno, 2004). Mengenal menurut Notoadmojo (2003) diartikan sebagai pengingat sesuatu yang sudah dipelajari atau diketahui sebelumnya. Sesuatu tersebut adalah sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Dalam mengenal masalah kesehatan keluarga haruslah mampu mengetahui tentang sakit yang dialami pasien.
b.Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Peran ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai keputusan untuk memutuskan tindakan yang tepat (Suprajitno, 2004). Friedman, 1998 menyatakan kontak keluarga dengan sistem akan melibatkan lembaga kesehatan profesional ataupun praktisi lokal (Dukun) dan sangat bergantung pada:
1)Apakah masalah dirasakan oleh keluarga ?
2)Apakah kepala keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dihadapi salah satu anggota keluarga ?
3)Apakah kepala keluarga takut akibat dari terapi yang dilakukan terhadap salah satu anggota keluarganya ?
4)Apakah kepala keluarga percaya terhadap petugas kesehatan?
5)Apakah keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas kesehatan?
c.Memberikan perawatan terhadap keluarga yang sakit
Beberapa keluarga akan membebaskan orang yang sakit dari peran atau tangung jawabnya secara penuh, Pemberian perawatan secara fisik merupakan beban paling berat yang dirasakan keluarga (Friedman, 1998). Suprajitno (2004) menyatakan bahwa keluarga memiliki keterbatasan dalam mengatasi masalah perawatan keluarga. Dirumah keluarga memiliki kemampuan dalam melakukan pertolongan pertama. Untuk mengetahui dapat dikaji :
1)Apakah keluarga aktif dalam ikut merawat pasien?
2)Bagaimana keluarga mencari pertolongan dan mengerti tentang perawatan yang diperlukan pasien ?
3)Bagaimana sikap keluarga terhadap pasien? (Aktif mencari informasi tentang perawatan terhadap pasien)
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga
1)Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki disekitar lingkungan rumah
2)Pengetahuan tentang pentingnya sanitasi lingkungan dan manfaatnya.
3)Kebersamaan dalam meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang menunjang kesehatan.
e.Menggunakan pelayanan kesehatan
Menurut Effendy (1998), pada keluarga tertentu bila ada anggota keluarga yang sakit jarang dibawa ke puskesmas tapi ke mantri atau dukun. Untuk mengetahui kemampuan keluarga dalam memanfaatkan sarana kesehatan perlu dikaji tentang :
1)Pengetahuan keluarga tentang fasilitas kesehatan yang dapat dijangkau keluarga
2)Keuntungan dari adanya fasilitas kesehatan
3)Kepercayaan keluarga terhadap fasilitas kesehatan yang ada
4)Apakah fasilitas kesehatan dapat terjangkau oleh keluarga.
Tenaga kesehatan dapat menjadi hambatan dalam usaha keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Hambatan yang dapat muncul terutama kamunikasi (Bahasa) yang kurang dimengerti oleh petugas kesehatan. Pengalaman yang kurang menyenangkan dari keluarga ketika berhadapan dengan petugas kesehatan ketika berhadapan dengan petugas kesehatan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Menurut Friedman (1998), dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku positif. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi dukungan keluarga meliputi; kelas sosial, bentuk-bentuk keluarga, latar belakang keluarga, tahap siklus kehidupan keluarga, model-model peran peristiwa situasional-khususnya masalah-masalah kesehatan atau sakit.
PENUAAN adalah suatu proses multidimensial yaitu mekanisme kerusakan dan perbaikan di dalam tubuh atau sistem tersebut terjadi secara bergantian pada kecepatan dan saat yang berbeda – beda.
APA ITU BAHAGIA ?
B : Berat badan (BB) berlebihan supaya dihindarkan
A : Aturlah makanan hingga sesuai / kurangi lemak atau kolesterol
H : Hindari faktor – faktor resiko penyakit jantung iskemik / koroner.
A : Agar terus merasa berguna dengan mempunyai kegiatan / hobi yang bermanfaat
G : Gerak badan teratur wajib terus dilakukan
I : Ikuti nasehat dokter dan hindari situasi tegang
A : Awasi kesehatan dengan memeriksakan badan secara periodik
1. Identitas Klien
2. Status Kesehatan saat ini
3. Riwayat kesehatan dahulu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Tinjauan sistem :
• Pemeriksaan tanda – tanda vital
• TB dan BB
• Kulit
• Ulkus dekubitus
• Kepala
• Rambut dan kuku
• Mata
• Telinga
• Hidung
• Mulut dan gigi
• Leher
• Payudara
• Sistem kardiovaskuler
• Sistem genitourinarius
• Sistem muskuloskeletal
• Sistem persarafan
• Sistem endokrin
• Sistem pernapasan
• Sistem gastrointestinal
Bertujuan untuk mengkaji personality, mood, emosi perasaan, pola koping, dan kemampuan kognitif serta menentukan bagaimana berperan dalam lingkungan sosial.
Komponen Pengkajian Psikososial :
Kemampuan mental atau kognitif
Dukungan sosial
Fungsi afektif dan status emosi
Fungsi tertentu dan perubahan peran
Mekanisme koping yang biasa digunakan
Pola keluarga dan struktur
Sumber yang digunakan dilingkungan atau perkumpulan
Sumber keuangan
7. Pengkajian fungsional klien
Komponen Pengkajian Fungsional :
a. Pengkajian kesehatan fisik
b. Riwayat kesehatan
c. Pengkajian perawatan diri
d. KATZ INDEKS :
Bathing
Dressing
Toileting
Transfer
Continence
Feeding
e. Modifikasi dari Bathel Indeks
Keterangan Nilai :
Nilai 130 : Mandiri
Nilai 60 – 125 : Ketergantungan sebagian
Nilai 60 : Ketergantungan total
f. Pengkajian Status Mental Gerontik Mengidentifikasi Kerusakan Intelektual Menggunakan
Short Portable Mental Status Questioner (SPSMQ).
Rentang Pertanyaan 1 – 10
(Beri kode √ sesuai jawaban benar atau salah pada kolom yang tersedia)
Keterangan Nilai :
§Salah 0 – 3 : Fungsi intelektual utuh
§Salah 4 – 5 : Kerusakan intelektual ringan
§Salah 6 – 8 : Kerusakan intelektual sedang
§Salah 9 – 10 : Kerusakan intelektual berat
g. Pengkajian Keseimbangan pada Lansia
Beri nilai 0 (nol) jika tidak menunjukkan kondisi dibawah ini atau beri nilai 1 (satu) jika klien menunjukkan salah satu kondisi dibawah ini.
1. Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan
§Bangun dari kursi
§Duduk ke kursi
§Menahan dorongan pada sternum
§Mata tertutup
§Perputaran leher
§Gerakan menggapai sesuatu
§Membungkuk
2. Komponen gaya berjalan atau gerakan
§Minta klien untuk berjalan ke tempat yang ditentukan
§Ketinggian langkah kaki
§Kontinuitas langkah kaki
§Kesimetrisan langkah
§Penyimpangan jalur pada saat berjalan
§Berbalik
Intervensi Hasil :
0 – 5 : resiko jatuh rendah
6 – 10 : resiko jatuh sedang
11 – 15 : resiko jatuh tinggi
CONTOH DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA LANSIA
1.Pada Individu
Gangguan mobilisasi b/d adanya peradangan sendi
2.Pada Keluarga
Resiko gangguan mobilisasi pada lansia A keluarga B b/d ketidakmampuan merawat anggota keluarga dengan masalah mobilisasi.
3.Pada Komunitas
Resiko terjadinya injury pada lansia diwilayah desa jambu b/d kurangnya pengetahuan dan penyuluhan pada lansia
Senam diabetes adalah senam fisik yang dirancang menurut usia dan status fisik dan merupakan bagian dari pengobatan diabetes mellitus (Persadia, 2000).
Manfaat tersebut didapat karena olah raga memberi pengaruh pada:
a.Jantung
Otot jantung bertambah kuat dan bilik jantung bertambah besar, sehingga denyutan kuat dan daya tampung besar. Kedua hal ini akan meningkatkan efisiensi kerja jantung. Dengan efisiensi kerja yang tinggi, jantung tak perlu berdenyut terlalu sering (Strauss, 1979 dalam Kushartanti, 2007).
b.Pembuluh darah
Elastisitas pembuluh darah akan bertambah, karena berkurangnya timbunan lemak dan penambahan kontraktilitas otot dinding pembuluh darah. Elastisitas pembuluh darah yang tinggi akan memperlancar jalannya darah dan mencegah timbulnya hipertensi (Sukarman, 1987 dalam Kushartanti, 2007).
c.Paru-paru
Elatisitas paru-paru akan bertambah, sehingga kemampuan berkembang kempis juga akan bertambah (McArdle, 1986 dalam Kushartanti, 2007).
d.Otot
Kekuatan, kelentukan dan daya tahan otot akan bertambah. Hal ini disebabkan oleh bertambah besarnya serabut otot dan meningkatnya sistem penyediaan energi di otot (Brooks, 1984 dalam Kushartanti, 2007).
e.Tulang
Penambahan aktivitas enzim pada tulang akan meningkatkan kekuatan, kepadatan dan besarnya tulang, selain mencegah pengeroposan tulang (Fox, 1988 dalam Kushartanti, 2007).
f.Ligamentum dan tendo
Ligamentum dan tendo akan bertambah kuat, demikian juga perlekatan tendo pada tulang (Teitz, 1989 dalam Kushartanti, 2007).
Pedoman program latihan bagi penderita diabetes melitus
Pedoman program latihan bagi penderita diabetes melitus (Rifkin: 1984 dalam Long, 1996).
a.Jenis senam; aerobik
b.Durasi; 30-60 menit (pemanasan, inti, dan pendinginan)
Tahapan senam: masing-masing tahap senam meliputi:
1)Lima sampai 10 menit pemanasan peregangan tungkai
2)20-30 menit latihan aerobik dengan denyut jantung pada zona target (75-80% denyut jantung maksimal)
3)15-20 menit latihan ringan dan peregangan untuk pendinginan
Hal-hal yang perlu di perhatikan adalah setiap program latihan, apapun macamnya harus mengandung unsur pemanasan, latihan inti dan pendinginan. Pemanasan dimaksudkan untuk mempersiapkan organ-organ tubuh beserta perangkatnya (termasuk enzim) agar mampu melakukan gerakan-gerakan dengan baik dan terhindar dari cedera. Lebih dari itu pemanasan juga dimaksudkan untuk mempersiapkan menghadapi latihan. Latihan inti disesuaikan dengan kemampuan, kemauan, keharusan dan keadaan. Latihan ini sangat spesifik, setiap kasus berbeda dan pada kasus yang sama pun satu orang dengan orang lain akan berbeda. Pendinginan dilakukan dengan cara mengurangi gerakan secara bertahap sebelum berhenti sama sekali. Merupakan suatu keharusan untuk melakukan pendinginan setelah latihan, sebab tanpa pendinginan dapat timbul rasa pusing, mual, muntah, bahkan bisa sampai pingsan. Pendinginan juga bermanfaat untuk mempercepat hilangnya rasa capai setelah latihan, sebab zat pelelah (asam laktat) akan segera kembali ke peredaran darah.
Tahap-tahap senam seperti yang diungkapkan Sumarni (2008) adalah:
1)Pemanasan 1
Berdiri di tempat. Angkat kedua tangan keatas seluruh bahu. Kedua tangan bertautan. Lakukan bergantian dengan posisi kedua tangan di depan tubuh.
2)Pemanasan 2
Berdiri di tempat, angkat kedua tangan ke depan tubuh hingga lurus bahu. Kemudian, gerakkan kedua jari seperti hendak meremas. Lalu, buka lebar. Lakukan secara bergantian, namun tangan diangkat ke kanan-kiri tubuh hingga lurus bahu.
3)Inti 1
Posisi tegap berdiri, kaki kanan maju selangkah ke depan. Kaki kiri tetap di tempat. Tangan kanan diangkat diangkat ke kanan tubuh selurus bahu. Sedangkan tangan kiri ditekuk hingga telapak tangan mendekati dada. Lakukan secara bergantian.
4)Inti 2
Posisi berdiri tegap. Kaki kanan diangkat hingga paha dan betis bentuk sudut 90 derajat. Kaki kiri tetap ditempat. Tangan kanan diangkat kekanan tubuh selurus bahu. Sedangkan tangan kiri di tekuk hingga telapak tagan mendekati dada. Lakukan secara bergantian.
5)Pendinginan 1
Kaki kanan agak menekuk, kaki kiri lurus. Tangan kiri lurus kedepan selurus bahu. Tangan kanan ditekuk ke dalam. Lakukan secara bergantian.
6)Pendinginan 2
Posisi kaki bentuk hurut V terbalik. Kedua tangan direntangkan ke atas dengan membentuk huruf V.
Gerakan Senam Diabetes
Gerakan kaki.
Posisi awal: duduk tegak diatas sebuah kursi jangan bersandar.
Latihan 1 (10 kali)
1.Gerakan jari-jari kedua kaki seperti membentuk cakar
2.Luruskan kembali
Latihan ke 2 (10 kali)
1.Angkat ujung kaki, tumit tetap diletakkan diatas lantai
2.Turunkan ujung kaki, kemudian angkat tumitnya dan turunkan kembali
Latihan ke 3 (10 kali)
1.Angkat kedua ujung kaki
2.Putar kaki pada pergelangan tangan, ke arah samping
3.Turunkan kembali ke lantai dan gerakan ke arah tengah
Latihan ke 4 (10 kali)
1.Angkat kedua tumit
2.Putar kedua tumit ke arah samping
3.Turunkan kembali kelantai dan kembali ketengah
Latihan ke 5 (10 kali)
1.Angkat salah satu lutut
2.Luruskan kaki
3.Gerakan jari-jari kaki ke depan
4.Turunkan kembali kaki, bergantian dengan kaki yang lain
Latihan ke 6 (10 kali)
1.Luruskan salah satu kaki diatas lantai
2.Kemudian angkat kaki tersebut
3.Gerakan ujung-ujung kearah muka
4.Turunkan kembali tumit kelantai
Latihan ke 7 (10 kali)
Seperti latihan ke 6, tetapi kali ini dengan kedua kaki bersamaan
Latihan ke 8 (10 kali)
1.Angkat kedua kaki, luruskan dan pertahankan posisi tersebut
2.Gerakan kaki pada pergelangan kaki, ke depan dan ke belakang
Latihan ke 9 (10 kali)
1.Luruskan salah satu kaki dan angkat
2.Putar kaki pada pergelangan kaki
3.Tuliskan di udara pada kaki angka 0 s/d 10
Latihan ke 10 (10 kali)
1.Selembar koran dilipat-lipat dengan kaki menjadi bentuk bulat seperti bola. Kemudian dilicinkan kembali dengan menggunakan ke dua kaki, setelah itu di sobek-sobek.
Kumpulkan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki dan letakkan diatas lembaran koran lainnya. Bungkuslah semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola.
Download Artikel Senam Diabetes Mellitus lengkap Klik dibawah :