Copy of foto danau batur

Followers

Advertisement (468 x 60px )

Latest News

Minggu, 29 Maret 2009

konspirasi flu burung

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1552614

Menteri Kesehatan Siti Fadilah, Menguak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.
Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.
"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. Mengubah Kebijakan Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.

Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia
pada 2005.

Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium
litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil,
transparan, dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Selasa, 17 Maret 2009

PERAN KELUARGA DALAM KESEHATAN



 Ditulis : Ahmad Kholid





Dewasa ini pembangunan di bidang kesehatan telah mengalami perkembangan yang begitu pesat, serta kesehatan sudah menjadi sebuah hal yang harus diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Melihat kondisi yang demikian sudah seharusnya bukan hanya tenaga kesehatan saja yang menjadi penanggung jawab kesehatan, tetapi kesehatan merupakan tanggung jawab semua masyarakat. Siapapun masyarakat tersebut secara individu atau berkelompok mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan tenaga kesehatan terhadap upaya menciptakan terwujudnya kesehatan masyarakat itu sendiri.
Keluarga merupakan unit terkecil yang ada di masyarakat. Ini berarti keluarga merupakan kelompok yang secara langsung berhadapan dengan anggota keluarga selama 24 jam penuh. Menurut Mubarok (2007) peran keluarga adalah mampu mengenal masalah kesehatan, mampu membuat keputusan tindakan, mampu melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mampu memodifikasi lingkungan rumah, dan mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan yang meliputi:
a.       Mengenal masalah kesehatan
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti dan karena kesehatanlah seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung akan menjadi perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan dalam keluarga (Suprajitno, 2004). Mengenal menurut Notoadmojo (2003) diartikan sebagai pengingat sesuatu yang sudah dipelajari atau diketahui sebelumnya. Sesuatu tersebut adalah sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Dalam mengenal masalah kesehatan keluarga haruslah mampu mengetahui tentang sakit yang dialami pasien.
b.      Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Peran ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai keputusan untuk memutuskan tindakan yang tepat (Suprajitno, 2004). Friedman, 1998 menyatakan kontak keluarga dengan sistem akan melibatkan lembaga kesehatan profesional ataupun praktisi lokal (Dukun) dan sangat bergantung pada:
1)       Apakah masalah dirasakan oleh keluarga ?
2)       Apakah kepala keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dihadapi salah satu anggota keluarga ?
3)       Apakah kepala keluarga takut akibat dari terapi yang dilakukan terhadap salah satu anggota keluarganya ?
4)       Apakah kepala keluarga percaya terhadap petugas kesehatan?
5)       Apakah keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas kesehatan?
c.       Memberikan perawatan terhadap keluarga yang sakit
Beberapa keluarga akan membebaskan orang yang sakit dari peran atau tangung jawabnya secara penuh, Pemberian perawatan secara fisik merupakan beban paling berat yang dirasakan keluarga (Friedman, 1998). Suprajitno (2004) menyatakan bahwa keluarga memiliki keterbatasan dalam mengatasi masalah perawatan keluarga. Dirumah keluarga memiliki kemampuan dalam melakukan pertolongan pertama. Untuk mengetahui dapat dikaji :
1)       Apakah keluarga aktif dalam ikut merawat pasien?
2)       Bagaimana keluarga mencari pertolongan dan mengerti tentang perawatan yang diperlukan pasien ?
3)       Bagaimana sikap keluarga terhadap pasien? (Aktif mencari informasi tentang perawatan terhadap pasien)
d.       Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga
1)       Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki disekitar lingkungan rumah
2)       Pengetahuan tentang pentingnya sanitasi lingkungan dan manfaatnya.
3)       Kebersamaan dalam meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang menunjang kesehatan.
e.      Menggunakan pelayanan kesehatan
Menurut Effendy (1998), pada keluarga tertentu bila ada anggota keluarga yang sakit jarang dibawa ke puskesmas tapi ke mantri atau dukun. Untuk mengetahui kemampuan keluarga dalam memanfaatkan sarana kesehatan perlu dikaji tentang :
1)       Pengetahuan keluarga tentang fasilitas kesehatan yang dapat dijangkau keluarga
2)       Keuntungan dari adanya fasilitas kesehatan
3)       Kepercayaan keluarga terhadap fasilitas kesehatan yang ada
4)       Apakah fasilitas kesehatan dapat terjangkau oleh keluarga.
Tenaga kesehatan dapat menjadi hambatan dalam usaha keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Hambatan yang dapat muncul terutama kamunikasi (Bahasa) yang kurang dimengerti oleh petugas kesehatan. Pengalaman yang kurang menyenangkan dari keluarga ketika berhadapan dengan petugas kesehatan ketika berhadapan dengan petugas kesehatan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Menurut Friedman (1998), dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku positif. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi dukungan keluarga meliputi; kelas sosial, bentuk-bentuk keluarga, latar belakang keluarga, tahap siklus kehidupan keluarga, model-model peran peristiwa situasional-khususnya masalah-masalah kesehatan atau sakit.

Sabtu, 14 Maret 2009

M@s_MAMAD: Konsep Keluarga

M@s_MAMAD: Konsep Keluarga
HASIL PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS



JIKA ANDA INGIN MELIHAT SILAHKAN KLIK LINK DIBAWAH ....


http://www.authorstream.com/Presentation/kuecis77-162969-MMD-PKMD-Kalijambe-2009-kalija-Education-ppt-powerpoint/

MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA


Berikut ini adalah beberapa hasil kajian kami di Desa Kalijambe, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

Kalau mau lihat bisa klik dibawah....
 

Sabtu, 17 Januari 2009

Home

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA...
masmamad.blogspot.com

Nama : Ahmad Kholid
Asal : Jepara
Provinsi : Jawa Tengah
Pekerjaan : Staff Pengajar di AKPER Ngudi Waluyo Semarang

Blog ini adalah blog tentang Keperawatan yang khususnya membahas tentang seputar Keperawatan Komunitas.

Blog ini sengaja saya buat untuk sumbangsih saya yang tidak seberapa bagi para pembaca terutama rekan-rekan se-profesi, mahasiswa & khalayak umum yang berkenan untuk berkunjung di blog ini.

Dari Blog ini selain terdapat beberapa artikel keperawatan, juga saya lengkapi dengan beberapa artikel gratis yang dapat di download oleh pengunjung.

Semoga bermanfaat bagi saudara semua...
Terima Kasih...

Saudara juga dapat kontak melalui email di :

Kamis, 22 Mei 2008

PROSES KEPERAWATAN KELUARGA


PROSES KEPERAWATAN

KELUARGA

Created By : Ahmad Kholid, S.Kep., Ns.

Proses keperawatan merupakan suatu proses pemecahan masalah yang sistematis, yang digunakan ketika bekerja pada individu, keluarga, kelompok dan komunitas (Subekti, 2005). Pada keperawatan keluarga, perawat mengonsepualisasikan keluarga sebagai unit pelayanan dan keluarga sebagai unit atau system, maka fokusnya adalah keluarga.

Langkah – Langkah Proses Keperawatan Keluarga

Asuhan keperrawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga.

TUJUAN

1. Tujuan Umum

Untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Tujuan yang ingin dicapai adalah ditingkatkannya kemampuan keluarga :

a. Mengenal masalah kesehatan keluarga.

b. Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga.

c. Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat kepada anggota keluarga yang sakit, gangguan fungsi tubuh, keluarga yang membutuhkan bantuan, sesuai dengan kemampuan keluarga.

d. Memelihara dan memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis, dan social) sehingga dapat meningkatkan kesehatan keluarga.

e. Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat (misal; puskesmas, posyandu, / sarana kesehatan lain).

PERSIAPAN YANG PERLU UNTUK PERAWAT

a. Menetapkan keluarga yang menjadi sasaran kunjungan serta kasus yang perlu ditindaklanjuti.

b. Menetapkan jadwal kunjungan dan membuat kesepakatan dengan keluarga

c. Menyiapkan perlengkapan;

§ Mempelajari riwayat penyakit individu & keluarga, rekam kesehatan keluarga.

§ Membuat catatan singkat sebagai tindak lanjut kajian keluarga.

§ Kit Primary health nursing (PHN)

§ Alat bantu penyuluhan.

Pengkajian

Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang dibinanya.

Tahap – tahap pada pengkajian :

1. Membina hubungan yang baik / terapeutik ;

§ Diawali perkenalan, sopan, ramah.

§ Menjelaskan tujuan kunjungan

§ Meyakinkan keluarga bahwa kunjungan keluarga untuk membantu

§ Menjelaskan bantuan perawat yang dapat dilakukan.

§ Menjelaskan pada keluarga tim kesehatan lain yang terlibat.

2. Pengkajian awal; sesuai data yang diperoleh dari unit pelayanan kesehatan.

3. Pengkajian lanjutan (kedua); tahap pengkajian untuk memperoleh data lebih lengkap sesuai dengan masalah kesehatan keluarga yang ada sekarang.

Data yang perlu dikaji :

1. Berkaitan dengan keluarga

§ Data demografi & sosiokultural

§ Data lingkungan

§ Struktur & fungsi keluarga

§ Stress & koping keluarga

§ Perkembangan keluarga

2. Berkaitan dengan individu / anggota keluarga

§ Fisik, mental, emosi, social, spiritual

Aturan pembuatan genogram :

1. Anggota keluarga yang lebih tua berada di sebelah kiri

2. Umur anggota keluarga ditulis pada symbol laki-laki / perempuan

3. Tahun dan penyebab kematian ditulis disebelah symbol laki-laki / perempuan.

4. Penggunaan symbol dalam genogram

Pengkajian selengkapnya terlampir di lembar belakang !!!!

Diagnosa Keperawatan

1. Pengelompokan data

Perawat mengelompokkan data hasil pengkajian data subyektif dan obyektif setiap kelompok diagnosis keperawatan.

2. Perumusan diagnosis keperawatan

a. Masalah (problem) P, adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota (individu) keluarga.

b. Penyebab (etiologi) E, adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu kepada 5 (lima) tugas keluarga.

c. Tanda (sign) S, adalah sekumpulan data subyektif dan obyektif yang diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak yang mendukung masalah dan penyebab.

Tipologi diagnosa keperawatan keluarga terdapat 3 (tiga) :

§ Diagnosa Aktual

§ Diagnosa Resiko / Resiko Tinggi

§ Diagnosa Potensial / Wellness

DIAGNOSA

CONTOH

AKTUAL

Adalah masalah keperawatan yang sedang dialami keluarga & memerlukan bantuan perawat dengan cepat.

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur khususnya pada Ny. W keluarga Tn. S yang b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan yang nyaman untuk istirahat dan tidur.

2. Perubahan peran menjadi orang tua tunggal (single parent) pada Tn. M yang b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah peran orang tua tunggal setelah istrinya meninggal.

RESIKO / RESTI

Adalah masalah keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda untuk menjadi masalah keparawatan actual dapat terjadi dengan cepat apabila tidak segara mendapat bantuan / ditangani.

1. Resiko terjadinya serangan ulang yang berbahaya khususnya pada lansia Ny. P keluarga Tn. N yang b/d ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas) yang dekat dengan tinggal keluarga.

2. Resiko tinggi gangguan perkembangan balita khususnya pada An. U yang b/d ketidakmampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita.

POTENSIAL / WELLNESS

Adalah suatu keadaan sejahtera dari keluarga ketika keluarga telah mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya & mempunyai sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.

1. Potensial peningkatan kesejahteraan khususnya Ny. S yang sedang hamil pada keluarga Tn. B.

2. Potensial tumbuh kembang yang optimal bagi anak khususnya An. Y pada keluarga Tn. W.

Masalah keperawatan dianjurkan menggunakan pendekatan (NANDA).

3. Penilaian (Skoring) Diagnosis Keperawatan

Skoring dilakukan apabila rumusan diagnosis keperawatan lebih dari satu, proses scoring menggunakan skala dirumuskan oleh Bailon & Maglaya (1978).

Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan, yang terdiri dari :

  • Tentukan skornya sesuai dengan criteria yang telah dibuat.
  • Skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot.

X bobot

Skor yang diperoleh

Skor tertinggi

  • Jumlah skor untuk semua criteria (skor maksimum sama dengan jumlah bobot, yaitu 5)

Skoring Diagnosa Keperawatan (Bailon & Maglaya, 1978)

No.

KRITERIA

SKOR

BOBOT

1.

Sifat masalah

Skala : - Tidak / kurang sehat

- Ancaman kesehatan

- Keadaan sejahtera

3

2

1

1

2.

Kemungkinan masalah dapat diatasi

Skala : - Mudah

- Sebagian

- Tidak dapat

2

1

0

2

3.

Potensial masalah untuk dicegah

Skala : - Tinggi

- Cukup

- Rendah

3

2

1

1

4.

Menonjolnya masalah

Skala : - Masalah berat, harus segera ditangani

- Ada masalah, tetapi tidak perlu ditangani

- Masalah tidak dirasakan

2

1

0

1

Penentuan prioritas sesuai dengan criteria skala :

  • Untuk criteria pertama, prioritas utama diberikan pada tidak / kurang sehat karena perlu tindakan segera dan biasanya disadari oleh keluarga.
  • Untuk criteria kedua perlu diperhatikan :

ü Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi, dan tindakan untuk menangani masalah.

ü Sumber daya keluarga; fisik, keuangan, tenaga.

ü Sumber daya perawat; pengetahuan, ketrampilan, waktu.

ü Sumber daya lingkungan; fasilitas, organisasi dan dukungan.

  • Untuk criteria ketiga perlu diperhatikan :

ü Kepelikan masalah yang berhubungan dengan penyakit.

ü Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu.

ü Tindakan yang sedang dijalankan atau yang tepat untuk memperbaiki masalah.

ü Adanya kelompok yang beresiko untuk dicegah agar tidak actual dan menjadi parah.

  • Untuk criteria keempat, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga menilai masalah keperawatan tersebut.

4. Penyusunan prioritas masalah

Contoh Prioritas :

Resiko terjatuh (terpeleset) pada lansia yang tinggal di keluarga Tn. A yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menyediakan lingkungan yang aman bagi lansia.

No.

Kriteria

Skor

Pembenaran

1.

Sifat masalah

Skala : Ancaman kesehatan

2/3 X 1 = 2/3

Bila keadaan tersebut tidak segera diatasi akan membahayakan lansia yang tinggal bersama keluarga, karena lansia setiap hari dirumah tanpa pengawasan

2.

Kemungkinan masalah dapat diubah

Skala : Mudah

2/2 X 2 = 2

Penyediaan sarana yang murah dan mudah didapat oleh keluarga (misal; sandal karet)

3.

Potensial masalah untuk dicegah

Skala : Cukup

2/3 X 1 = 2/3

Keluarga mempunyai kesibukan yang cukup tinggi, tetapi merawat orang tua yang telah lansia merupakan penghormatan & pengabdian anak yang perlu dilakukan.

4.

Menonjolnya masalah

Skala : Masalah tidak dirasakan

0/2 X 1 = 0

Keluarga merasa keadaan tersebut telah berlangsung lama dari tidak pernah ada kejadian yang mengakibatkan lansia mengalami suatu cidera (terjatuh) dirumah akibat lantai yang licin.

Total Skor

3 1/3

Rencana Askep Keluarga (Family Care Plan)

Metode dalam menyusun rencana askep keluarga

Diagnosa Keperawatan

Rencana Asuhan Keperawatan

Masalah (P)

Digunakan untuk merumuskan tujuan umum – khusus atau tujuan jangka panjang – pendek

Penyebab (E)

Digunakan untuk merumuskan criteria standar / hasil yang diharapkan sebagai tolok ukur suatu keberhasilan.

Tanda (S)

Selanjutnya merumuskan rencana tindakan / intervensi keperawatan keluarga.

Perencanaan mencakup tujuan umum dan khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan criteria dan standar yang mengacu pada penyebab, merumuskan tindakan yang berorientasi pada criteria dan standar.

Rencana tindakan pada keluarga meliputi :

1. Menstimulasi kesadaran / penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan, dengan cara; memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan keluarga, mendorong sikap emosi untuk mendukung upaya kesehatan.

2. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara; mengidentifikasi konsekuensi bila tidak melakukan tindakan, mengidentifikasi sumber yang dimiliki keluarga, diskusi tentang tipe tindakan.

3. Memberikan kepercayaan diri selama merawat anggota keluarga yang sakit, dengan cara; demonstrasi, menggunakan alat dan fasilitas dirumah, mengawasi keluarga melakukan perawatan.

4. Membantu keluarga untuk memelihara (memodifikasi) lingkungan.

5. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada disekitar.

Hal penting dalam menyusun rencana :

1. Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah, dan mempunyai jangka waktu yang sesuai dengan kondisi klien.

2. Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan diobservasi dengan pancaindra perawat yang obyektif.

3. Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang dimiliki oleh keluarga dan mengarah ke kemandirian klien sehingga tingkat ketergantungan dapat diminimalisasi.

Contoh :

Tujuan jangka panjang

Lansia selama tinggal di keluarga Tn. A tidak terjatuh.

Tujuan jangka pendek

Setelah implementasi keperawatan yang ke – 5 melalui kunjungan rumah, keluarga menyediakan sarana yang aman bagi lansia.

Kriteria hasil

Pengetahuan

1. Keluarga dapat menyebutkan bahaya lingkungan (lantai yang licin).

2. Keluarga dapat menyebutkan akibat yang diderita lansia bila jatuh.

3. Keluarga dapat menyebutkan cara mencegah lansia terjatuh akibat lantai yang licin.

Sikap

4. Keluarga mengkomunikasikan lingkungan yang membahayakan lansia dengan anggota keluarga lainnya.

5. keluarga mampu memutuskan untuk menyediakan sarana yang aman bagi lansia.

Tindakan / psikomotor

6. Keluarga menyediakan sarana yang aman bagi lansia

7. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan rumah menjadi aman bagi lansia.

Rencana tindakan

1. Mendiskusikan tentang bahaya lantai licin

2. Mendiskusikan akibat bila lansia terjatuh

3. Meendiskusikan cara mencegah lansia terjatuh

4. Mengajarkan kepada keluarga untuk menyelesaikan masalah lansia dengan keluarga

5. Mengajarkan kepada keluarga setiap diskusi perlu diambil suatu keputusan yang terbaik

6. Tanpa adanya kesepakatan dengan keluarga, keluarga sudah melaksanakan pencegahan pada lansia (misal; lansia sudah diberikan sandal karet, tongkat, dll)

7. Bersama keluarga memodifikasi lingkungan yang aman.

Contoh penulisan Rencana :

Tujuan

Kriteria

Hasil / Standar

Intervensi

Setelah dilakukan tindk. Keperawatan …………………………

………………………..

Pengetahuan

Tindakan

1. keluuarga dapat melakukan ………

2. dst.

7. Keluarga dapat memodifikkasi ………

1. Diskusikan ………..

2. dst.

7. Bersama keluarga ……………………

Implementasi

Pada tahap ini perawat diharapkan tidak melakukan tindakan sendiri, melainkan bekerjasama dengan keluarga, tim lain, melakukan kontrak, agar keluarga mempunyai kesiapan fisik dan psikis.

Contoh Format Implementasi

Tanggal & Waktu

No. Diag. Kep.

Implementasi

8 Juni 2008

15.00 – 16.00

1

Pendidikan kesehatan tetang………….dan ……….. dengan keluarga Tn. A yang dihadiri …………, kontrak selanjutnya tanggal ……….jam…….untuk kegiatan……………..

Materi dan media yang akan diberikan sesuai dengan rencana implementasi jangan sampai lupa.

Evaluasi

Evaluasi digunakan dengan menggunakan SOAP

S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subyektif oleh keluarga secara subyektif oleh keluarga setelah dilakukan implementasi.

O : keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi.

A : merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subyektif dan objektif keluarga yang dibandingkan dengan criteria dan standar pada rencana keperawatan.

P : adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.

Contoh evaluasi :

Tanggal & Waktu

No. Diag. Kep.

Evaluasi

15 Juni 2008

16.00

1

S : Keluarga mengatakan bahwa masih ada

materi minggu lalu yang tidak dipahami, yaitu

tentang ………….

O : Keluarga dapat menjawab pertanyaan tentang

………..keluarga tidak dapat menjelaskan

kembali tentang …………

A : Implementasi yang dilaksanakan seminggu

lalu dengan metode ceramah dan media

brosur, belum sepenuhnya dimengerti oleh

keluarga. Perlu metode dan media lain yang

efektif.

P : Berikan penkes ulang sesuai kesepakatan

dengan keluarga, metode dengan

demonstrasi, metode ditambah dengan bahan

yang sesuai dengan kondisi di keluarga.

Anda Pengunjung Ke :