Copy of foto danau batur

Followers

Advertisement (468 x 60px )

Latest News

Minggu, 20 Februari 2011

LANGKAH - LANGKAH DESAIN HEALTH PROMOTION HOSPITAL

Background



By : Ahmad Kholid

 




A.    Planning

1.      Langkah 1 : Pahami Pasar dan Kompetisinya.

Ini adalah kesalahan umum yang sering dilakukan bisnis / pemasaran. Sebuah pasar yang menguntungkan, adalah pasar yang penuh dengan orang-orang yang begitu putus asa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan (menginginkan pelayanan kesehatan yang bagus). Hingga mereka akan berlari dan berebut untuk mendapatkan produk atau jasa yang ditawarkan.

Hal – hal yang perlu dikaji dalam perencanaan pada pasar :

a.       Masih ada tidak bagian dari produk jasa kesehatan di rumah sakit yang belum terpenuhi secara maksimal ?

b.      Berapa banyak dan besar yang harus rumah sakit lakukan agar bisa menang dalam jasa pelayanan ?

c.       Seberapa berat kompetisi yang harus dihadapi oleh rumah sakit ?

d.      Kelemahan apa yang dimiliki para pesaing, agar rumah sakit kita bisa memanfaatkan peluang ?

2.      Langkah 2 : Pahami Konsumen.

Mengenali konsumen secara mendalam adalah langkah awal untuk menghasilkan produk yang kita jual. Sampai benar-benar tahu siapa target promosi kesehatan kita, apa yang masyarakat / konsumen inginkan, dan apa yang bisa memotivasi masyarakat untuk mau produk kita.

3.      Langkah 3. Pilih Sebuah Niche.

Target rumah sakit adalah "masyarakat", akan tetapi perlu mencari sebuah niche yang kecil dan sempit sesuai sasaran pesan yang akan kita sampaikan, berusahalah untuk mendominasinya. Baru kemudian kita mempertimbangkan untuk mencari niche berikutnya. Pastikan juga untuk memilih niche yang membuat tertarik. Tidak ada yang lebih destruktif selain memilih niche yang tidak bisa membuat kita terus merasa tertarik.

4.      Langkah 4. Tentukan Pesan-pesan Promosi Kesehatan.

Pesan-pesan marketing rumah sakit tidak cuma bertujuan untuk memberitahu target mengenai apa yang dilakukan, tapi juga berusaha untuk meyakinkannya agar menjadi konsumen rumah sakit. Ada dua macam pesan yang harus kau kembangkan.

Yaitu:

a.       Pertama, pesan-pesan yang singkat dan langsung ke sasaran (to the point). Pesan-pesan ini untuk menjawab pertanyaan " apa yang kita lakukan?"

b.      Yang kedua, yaitu pesan-pesan yang lengkap dan berisi semua materi promosi kesehatan.

5.      Langkah 5. Tentukan Media Promosi Kesehatan.

Media yang akan menjadi kendaraan untuk mengantarkan pesan-pesan marketing promosi kesehatan. Sangat penting untuk mencari dan memilih jenis media yang memberikan hasil tertinggi tapi dengan biaya terendah. Triknya adalah menyesuaikan antara pesan-pesan marketing, target, dan media yang digunakan.

 

B.     Idea


Ruang lingkup promosi kesehatan di rumah sakit :

1.      Di dalam gedung:

a.       Promosi kesehatan di ruang pendaftaran :

1)      Sambutan berupa salam hangat untuk membuat pasien/klien merasa tenteram berada di RS.

2)      Media: poster, neon box dengan foto dokter & perawat yang ramah disertai tulisan dan rekaman suara “SALAM”

b.      Promosi kesehatan bagi pasien rawat jalan :

1)      Pemberdayaan melalui konseling: idealnya dilakukan semua petugas, tetapi jika tidak ada sediakan ruangan khusus konseling di setiap poliklinik. Bisa dilakukan secara individu atau kelompok, medianya misalnya: gambar-gambar, model anatomi, tayangan,

2)      Bina suasana: dilakukan terhadap pengantar pasien atau pasien sendiri khususnya di ruang tunggu. Media: poster, liflet (boleh diambil), TV & VCD/DVD Player.

3)      Advokasi: terutama untuk mendapatkan dukungan bagi pasien miskin kepada pengusaha sukses atau donatur lain,

c.       Promosi kesehatan bagi pasien rawat inap :

1)      Pemberdayaan dilakukan terhadap pasien penyakit kronis dan/atau pasien dalam masa penyembuhan (bukan kepada pasien akut). Cara: (1) bedside counseling, (2) biblioterapi, & (3) konseling kelompok,

2)      Bina suasana: terutama ditujukan kepada para pengunjung pasien/pembesuk; melalui (1) pemanfaatan ruang tunggu, (2) pembekalan pembesuk secara berkelompok, dan (3) pendekatan keagamaan,

d.      Promosi kesehatan dalam pelayanan penunjang medik; PKRS di pelayanan lab, Rontgen, obat/apotek, pemulasaran jenazah.

2.      Di luar gedung: di tempat parkir, di taman RS, di dinding luar RS, di pagar pembatas kawasan RS, di kantin/kios di kawasan RS, di tempat ibadah.

Penempatannya, antara lain:

a.       Di dinding luar RS: di waktu-waktu tertentu, misalnya hari kesehatan nasional, hari kesehatan sedunia, dll. Media: hanya 1-2 giant banner selama beberapa hari saja,

b.      Di pagar pembatas kawasan RS: khususnya yang berbatasan dengan jalan, seiring dengan pemanfaatan dinding luar RS. Media: hanya beberapa spanduk biasa.

 

C.    Communication dan Decision


1.      Communication

Komunikasi pemasaran melalui kegiatan promosi kesehatan dengan periklanan merupakan salah satu strategi dalam memperkenalkan atau menjelaskan produk jasa rumah sakit yang di pasarkan. Strategi yang sering dipergunakan dalam membidik konsumen adalah adanya pengelompokan pasar/segmen sebagai wilayah calon konsumen/pemakai. Pemilihan kelompok konsumen yang spesifik akan lebih mudah mengkomunikasikan produk pelayanan rumah sakit melalui media periklanan. Ciri atau karakter pada sekelompok konsumen rumah sakit merupakan data untuk memudahkan memasarkan produk promosi kesehatan rumah sakit.

Maksud rumah sakit terhadap tampilan produk jasa pelayanan yang dipublikasikan melalui periklanan, antara lain:

a.       Memperkenalkan identitas produk promosi kesehatan rumah sakit yang diinformasikan dan menjelaskan perbedaan produk pelayanan rumah sakit dengan yang lain.

b.      Mengkomunikasikan konsep produk promosi kesehatan rumah sakit, yaitu manfaat dan kelebihannya dari segi fungsional, psikologis, atau nilai pasar sasaran konsumen.

c.       Mengarahkan pemakaian produk baik yang lama atau yang baru kepada sasaran / konsumen.

d.      Memberitahukan tempat penjualan atau pembelian untuk merangsang ditribusi yang lebih luas.

e.       Meningkatkan penjualan / pelayanan jasa yang berarti pula tingkat kunjungan rumah sakit meningkat.

f.       Membangun citra promosi kesehatan dan menjaga kemampuan posisi rumah sakit dalam pandangan konsumen.

g.      Menghadapi dan mengatasi masalah saingan antar produk promosi kesehatan rumah sakit lainnya.

Informasi media promosi kesehatan yang lancar dan mudah dipahami oleh masyarakat (konsumen) akan memberikan tanggapan yang positif bagi konsumen. Informasi yang jelas secara visual maupun verbal dan tidak menyinggung perasaan konsumen akan menguntungkan dipihak rumah sakit. Harapan positif di hati masyarakat merupakan tujuan utama rumah sakit dalam menawarkan produknya pelayanan kesehatan, sehingga bisa diterima di pasaran. Berbagai cara rumah sakit dalam mempromosikan produknya melalui periklanan diharapkan mendapatkan citra positif konsumen.

 

2.      Decision

Begitu banyak perhatian dapat ditujukan untuk tujuan-tujuan, isi, strategi, dan metode program promosi kesehatan sehingga 'proses' pelaksanaan sering kali diabaikan. Parkinson (1982) mengklasifikasikannya dengan tiga pendekatan;

a.       The pilot approach. Ini adalah langkah pertama yang penting dalam melaksanakan program promosi kesehatan. Green (1986) menyebutnya sebagai site response, yaitu mendapatkan umpan balik dari para peserta yang terlibat dalam program, serta dari staf perencana, pada kualitas program dalam semua dimensi-dari bahan-bahan pendidikan (misalnya, pamflet atau menampilkan ) dari kelayakan staf yang dipilih untuk menyampaikan program. Umpan balik yang berharga dari fase pilot ini juga dikenal sebagai proses evaluasi, evaluasi dari suatu proses termasuk kedalam fase pelaksanaan.

b.      The phased-in approach. Hal ini terjadi ketika program tersebut dilaksanakan di berbagai tempat, daerah atau wilayah. Sebuah program percontohan mungkin menghasilkan proses evaluasi yang positif, dan / atau evaluasi mungkin telah menghasilkan penyesuaian program. Keputusan ini kemudian dibuat untuk membuat atau memfasekan program tersebut menjadi berbagai pengaturan dari waktu ke waktu karena keterbatasan sumber daya, kebutuhan akan bahan-bahan yang lebih tepat, atau timelinenya.

c.       Immediate implementation of the total program. Program yang telah efektif di masa lalu, atau program yang mempunyai pendekatan yang standar, sering diimplementasikan secara totalitas.

Secara keseluruhan suatu pendekatan pilot pada setiap program yang baru dikembangkan adalah suatu keharusan. Pendekatan ini berfungsi untuk melibatkan komunitas Anda dalam desain, proses evaluasi dan pelaksanaan, sehingga memastikan komitmen dari masyarakat itu sendiri.


7 TAHAP PERENCANAAN STRATEGIS PROMOSI KESEHATAN

Background


7 TAHAP PERENCANAAN STRATEGIS PROMOSI KESEHATAN


By : Ahmad Kholid


Strategis menjelaskan hasil yang diinginkan dan cara dalam pencapaian tujuan yang akan dicapai pada hasil pelaksanaan tetapi tidak selalu masuk ke detail tentang metode atau mengukur hasil. Perencanaan strategis mengacu pada perencanaan sebuah kegiatan berskala besar yang melibatkan berbagai intervensi pada patner yang berbeda dan bertahap.

Pada “English white paper on Public Health” disebutkan bahwa perencanaan strategis mengacu pada kebutuhan yang telah digabungkan dan kebijakan yang terkait. Ewles dan Simnett (1995) menggambarkan beberapa tingkat/taraf dalam pengembangan strategi meliputi :

1.       Identifikasi kegemaran patner

2.       Diagnose, yaitu identifikasi kemana dan bagaimana kita menginginkan sesuatu yang berbeda

3.       Visi, yaitu terkait dengan hasil yang diharapkan

4.       Pembangunan, kebutuhan untuk merubah permintaan sesuai dengan apa yang dicitakan dan apakah Program yang ada sejalan dengan harapan.

5.       Rencana pelaksanaan, yaitu rencana mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya

 

Model Perencanaan Promosi Kesehatan

Menurut Ewles dan Simnett (1995), kerangka kerja perencanaan promosi kesehatan dapat meliputi :

 

Stage 1: Identifikasi kebutuhan dan prioritas

Identifikasi kebutuhan dan prioritas memerlukan penelitian dan penyelidikan, atau mungkin dengan menyeleksi sebagian klien dilihat dari kasus yang menjadi problem. Identifikasi kebutuhan dapat dilakukan dengan melakukan penyelidikan/penelitian secara berurutan terhadap keadaan klien, bertanya langsung kepada klien tentang topik terkait informasi dan nasehat yang mereka perlukan. Selain itu, identifikasi dapat juga melihat pada cataan kasus untuk dapat mengidentifikasi topik yang bersifat umum. Contoh: tim kesehatan mungkin mengetahui bahwa banyak orangtua bermasalah dengan pola tidurnya, oleh karena itu pimpin atau beri arahkan kepada mereka untuk melakukan set up di klinik masalah tidur.

Model perencanaan lainnya dimulai dari perbedaan pint, contoh: pada Model perencanaan Tone’s (Tones, 2010) memulai dengan menetapkan tujuan promosi kesehatan yang kemudian dianalisa untuk menetukan intervensi pendidikan/promosi kesehatan yang tepat. Intervensi yang dilakukan dimodifikasi dengan merujuk karakteristik pada kelompok target, dan detail rencana program prendidikan. Model perencanaan Tone’s fokus pada intervensi pendidikan, keberlangsungan dari strategi nasional pada promosi kesehatan melengkapi tujuan promosi kesehatan dalam pelaksanaan. Menurut Minkler, M. Ed. (1997) model perencanaan dimulai dengan menyusun atau mengatur sebuah kelompok kerja untuk mengkaji ulang (review) masalah dan identifikasi proyek promosi kesehatan yang sesuai dengan kasus/masalah yang ada.

 

Stage 2: Mementukan tujuan dan target

Tujuan mengacu pada goal dengan meningkatkan kesehatan di beberapa area, contoh: mengurangi konsumsi alcohol karena berhubungan dengan terjadinya gangguan kesehatan. Objek atau sasaran membuhkan pernyataan spesifik dan harus merupakan pernyataan yang mengaktifkan objek bekerjasama dalam pencapaina tujuan yang dicita-citakan bersama. Objek atau sasaran kemudian diarahkan untuk diberi pendidikan, menciptakan kebiasaan yang sehat, mengacu pada kebijakan yang terkait, dan menganalisa proses serta hasil kelingkunga. Pendidikan objek/sasaran mungkin memutuskan beberapa kategori meliputi:

1.       Level pengetahuan klien (objek) bertambah, terkait dengan masalah yang dibahas dalam promosi kesehatan

2.       Affektif klien (objek) mengalami perubahan menuju pola hidup lebih sehat, yang dapat dilihat pada perubahan tingkah laku dan kepercayaan

3.       Kebiasaan atau ketrampilan klien bertambah/ semakin mahir pada kompetensi dan ketrampilan baru.

Target promosi kesehatan dapat meliputi tambaha sebagai berikut :

a.       Perubahan kebiasaan, meliputi perubahan gaya hidup dan peningkatan pelayanan. Contoh: mengurangi kebiasaan merokok

b.      Perubahan pada kebijakan kesehatan

c.       Peningkatan partisipan dalam proses pelaksanaan dan kemampuan untuk bekerjasama. Contoh: meningkatkan/menggerakkan komunitas (partisipan) di sector dalam guna mendukung program Indonesia sehat MDGs 2014.

d.      Perubahan lingkungan menjadi lebih sehat, contoh membudayakan membuang sampah pada tempatnya.

 

Stage 3: Identifikasi metode yang tepat dalam pencapaian tujuan

Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan promosi kesehatan yang akan dicapai dan memperhatikan segi objek, artinya metode yang digunakan mampu memberi reflek pada objek/target yang dituju.


Metode tertentu terkadang tidak cukup efektif digunakan pada objek tertentu. Misalnya, pada promosi kesehatan yang diadakan pada sekelompok kecil akan lebih efektif dalam memberikan pendidikan dan melihat terjadinya perubahan perilaku pada objek sebagai hasil dari pelaksanaan sehingga metode pengajaran dapat dilakukan oleh individu atau sekelompok kecil tim kesehatan. Sedangkan, pada taraf komunitas, metode promosi keehatan akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara beerjasama dengan pemerindah daerah yang terkait guna mendukung pelaksanaan promosi kesehatan yang akan dijalankan. Media massa juga dapat menjadi metode promosi kesehatan pada cakupan objek yang lebih kompleks lagi. Melalui media massa akan lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan terhadap topic kesehatan, akan tetapi kurang efektif untuk mengukur atau menilai terjadinya perubahan perilaku dari objek sasaran. Oleh karena itu, dalam pemilihan metode promosi kesehatan harus selalu menghubungkan antara tujuan, objek yang menjadi sasaran, pengetahuan dan juga ketrampilan dari tim kesehatan sehingga topic kesehatan tidak hanya dimengerti tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan sehingga diperoleh perubahan perilaku menuju kearah kebiasaan pola hidup sehat.


Satge 4: Identifikasi sumber yang terkait

Ketika objek dan metode telah diputuskan, tingkat perencanaan selanjutnya adalah mempertimbangkan mengenai sumber spesifik yang dibutuhakan dalam mengimplementasi strategi pelaksanaan. Sumber dapat berupa dana, ketrampilan dan keahlian, bahan seperti selebaran atau kotak pembelajaran, kebijakan yang menarik, rencana, fasilitas dan pelayanan.


Stage 5: Menyusun metode rencana evaluasi

Evaluasi harus berhubungan tujuan/sasaran yang telah disusun sebelumnya tetapi dapat diusahakan lebih dari tujuan yang telah ditapkan atau kurang dari yang dicita-citakan. Evaluasi dapat kita lakukan dengan menanyakan pada partisipan mengenai pemahaman informasi pada akhir sesi atau dapat juga dalam bentuk lebih formal seperti dengan menbagikan kuisioner kepeda peserta/partisipan untuk diisi sesuai apa yang dipahami atau dimengerti setelah pelaksanaan promosi keehatan.


Stage 6: Menyusun rencana pelaksanaan

Penyusunan rencana pelaksanaan merupakan tindakan yang meliputi penulisan detail rencana pelaksanaan, seperti identifikasi topik/masalah, orang yang akan menyampaikan informasi terkait dengan topic, sumber yang akan digunakan, rentang waktu hingga tahap rencana evaluasi.


Stage 7: Pelaksanaan atau Implementasi dari perencanaan

Merupakan tahap yang penting untuk selalu diperhatikan mengenai hal yang harus dan tidak harus dilakukan, sehingga tidak terjadi masalah yang tidak diharapkan. Pelaksanaan atau implementasi promosi kesehatan perlu direncanakan supaya dalam kenyataannya partisipan diharapkan mampu menyerap atau menerima, mengerti, memahami dan mau serta mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga diperoleh perubahan perilaku menjadi lebig sehat. hasil atau out-put yang ditunujukkan oleh partisipan setelah dilaksanakan promosi keehatan menjadi bahan dalam penusunan evaluasi.

 

Reference :

Ewles, L., & Simnett, I., (1995). Promoting Health – A Practical Guide, London : Scutari Press
Stanhope, M. dan Lancaster, J (1998). Community Health Nursing: Process and Practice for promoting Health , St. louis: Mosby Company.

Minkler, M. Ed. (1997). Community Organizing & Community Building for Health. Rutgers State University Press.

Keith Tones and Jackie Green, (2010). Health promotion : planning and strategies, 2nd ed., London : SAGE



Anda Pengunjung Ke :