Copy of foto danau batur

Followers

Advertisement (468 x 60px )

Latest News

Sabtu, 02 Juli 2011

STIGMA HIV & AIDS

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immun Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian yang lebih serius oleh semua pihak, bukan saja pemerintah tetapi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini mengingat HIV/AIDS masih tetap menjadi hal yang pelik, tidak tersembuhkan dan menghancurkan individu, masyarakat dan bangsa (Depkes RI, 2006).
Sejak awal epidemi HIV/AIDS, sekitar 60 juta orang telah terinfeksi HIV/AIDS dan sekitar 20 juta di antaranya meninggal dan menjadikannya sebagai penyakit paling mematikan dalam sejarah. World Health Organization (WHO) tahun 2005 melaporkan bahwa lebih dari 150 negara di dunia mengalami epidemi HIV/AIDS. Dari angka kejadian HIV/AIDS, diketahui jumlah orang yang hidup dengan penderita HIV/AIDS (ODHA) sebanyak 40,3 juta jiwa, sedangkan jumlah yang terinfeksi HIV/AIDS baru sebanyak 4,9 juta jiwa (Berhane, 2006).
Di Asia Tenggara, proporsi prevalensi HIV/AIDS orang dewasa Asia Tenggara mencapai 0,7%, yang tersebar di Negara Kamboja, Thailand, Myanmar dan beberapa bagian negara India yang penduduknya padat, seperti Maharashtra dan Tamil Nadu. Di Indonesia, epidemi HIV/AIDS saat ini sangat memprihatinkan. Indonesia bahkan sudah tergolong sebagai negara dengan tingkat epidemi terkonsentrasi. Hal tersebut mengandung arti bahwa HIV/AIDS sudah cukup tinggi (>5%) pada daerah dan kelompok masyarakat tertentu. Jumlah kumulatif pengidap infeksi HIV/AIDS di seluruh Indonesia pada akhir Desember 2007 telah mencapai 17207 kasus, yang terdiri dari 6066 HIV dan 11141 AIDS dengan jumlah kematian sebanyak 2369 orang (Depkes RI, 2007).
Jumlah penderita HIV/AIDS di  seluruh kabupaten/kota di Indonesia pada 2010 diperkirakan mencapai 93 ribu sampai 130 ribu orang. Menurut National Trainer Care, Support and Treatment IMAI-HIV/AIDS, dr Ronald Jonathan MSc, pada seminar dua hari Global Diseases 2nd Continuing Professional Development, di  Bandarlampung, Sabtu dan Minggu, angka itu diperoleh berdasarkan perkiraan pengaduan penderita terinfeksi HIV/AIDS ke sejumlah rumah sakit, yang berjumlah tidak lebih dari sepersepuluh korban terinfeksi keseluruhan. Jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia sejak 1980-an hingga September 2009 yang terdata oleh Departemen Kesehatan mencapai 18.442 penderita, dengan perbandingan jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu. Sudah ada pergeseran pola penyebaran, kini penyeberan terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi penggunaan jarum suntik. Hampir 50 persen dari penyebaran virus HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual,dan melalui jarum suntik (pada pengguna narkoba) mencapai 40,7 persen berdasarkan riset terhadap jumlah total penderita. Sementara itu, penyebaran virus HIV/AIDS pada gay, waria dan transgender hanya mencapai 3-4 persen dari jumlah total penderita. Rentan usia tertinggi penderita HIV/AIDS hingga saat ini masih tetap berada pada usia produktif yaitu 20-39 tahun.
Menurut PKBI Jawa Tengah (2010), penderita HIV di seluruh kota dan kabupaten adalah sebagai berikut :

  
Sumber: PKBI Jawa Tengah (2010)
Pelayanan VCT penting untuk penderita HIV/AIDS dan orang yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS. Studi-studi menunjukkan bahwa VCT dapat mengubah perilaku seksual untuk mencegah penularan HIV. Dengan memberikan pelayanan VCT terdapat penurunan morbiditas ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). VCT juga dapat mengurangi stigma dan penyangkalan serta mempromosi normalisasi. Makin luas ketersediaan pelayanan VCT, maka makin meningkat orang yang sadar akan status HIV-nya, sehingga mengurangi penularan secara cepat (Depkes RI, 2006).
Masyarakat masih memberikan stigma dan diskriminasi kepada penderita HIV / AIDS. Faktor-faktor yang menimbulkan stigma dan diskriminasi di masyarakat adalah karena penyakit HIV / AIDS dapat mengancam jiwa, informasi yang kurang tepat mengenai penyakit HIV / AIDS dan adanya kepercayaan dimasyarakat bahwa penyakit ini adalah merupakan suatu “hukuman” atas perbuatan yang melanggar moral atau tidak bertanggungjawab sehingga penderita HIV / AIDS itu “pantas” untuk menerima perlakuan-perlakuan yang tidak selayaknya mereka dapatkan. Adanya ketakutan, stigmatisasi dan diskriminasi menimbulkan dampak penolakan dari masyarakat bahkan penolakan dari akses pendidikan dan kesehatan. Tindakan penolakan itu bisa berupa sekedar ucapan hingga berupa penyiksaan psikologis dan fisik yang traumatis. Trauma yang diterima penderita HIV menjadi bertumpuk-tumpuk, selain trauma karena tahu yang akan terjadi pada tubuhnya bila menderita HIV, juga trauma karena adanya stigma dan diskriminasi yang melekat terus sepanjang hidupnya.
Perkembangan penelitian obat-obatan antiretroviral maupun penelitian obat-obatan peningkat sistem imun mampu mengurangi dampak buruk dari penyakit ini. Seharusnya, penderita HIV bisa diperlakukan yang sama dengan pengindap virus yang lain. Bukankah virus Flu Babi lebih menakutkan karena bisa menular tanpa adanya kontak fisik sekalipun. Fakta sudah membuktikan bahwa  disaat ini  HIV / AIDS sudah menjadi penyakit yang  dapat dicegah dan diterapi maka diharapkan perubahan perilaku penolakan, stigma dan diskriminasi akan dapat dikurangi.


STIGMA HIV / AIDS

A.    HIV / AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain) (UNAIDS, 2002).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan (UNAIDS, 2002).
HIV menular melalui:
  1. Bersenggama yang membiarkan darah, air mani, atau cairan vagina dari orang HIV-positif masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi (yaitu senggama yang dilakukan tanpa kondom melalui vagina atau dubur; juga melalui mulut, walau dengan kemungkinan kecil).
  2. Memakai jarum suntik yang bekas pakai orang lain, dan yang mengandung darah yang terinfeksi HIV.
  3. Menerima transfusi darah yang terinfeksi HIV.
  4. Dari ibu HIV-positif ke bayi dalam kandungan, waktu melahirkan, dan jika menyusui sendiri.
B.     Stigma
Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya (Kamus Bahasa Indonesia, 2009).
Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV; diwajibkannya uji coba HIV tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu atau perlindungan kerahasiaannya; dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV (Aminatun, 2003).

C.    Tipe Stigma
Stigma AIDS lebih jauh dapat dibagi menjadi tiga kategori : (1) Stigma instrumental AIDS - yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular. (2) Stigma simbolis AIDS - yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan sikap terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan dengan penyakit tersebut. (3) Stigma kesopanan AIDS - yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.
Menurut Goffman, stigma dibagi menjadi tiga tipe. Tipe pertama yakni stigma terhadap kecacatan pada tubuh, yakni stigma dikenalkan karena adanya kecacatan fisik pada tubuh. Stigma yang kedua yakni stigma terhadap buruknya perilaku seseorang. Stigma ini biasanya dikenakan kepada orang-orang yangn dipenjara, alkoholik, dan orang yang memiliki kesehatan mental yang buruk. Stigma ketiga disebut dengan tribal stigma. Stigma ini dikenakan berdasarkan ke dalam kelompok mana seseorang memiliki afiliasi. Sebagai contoh, seseorang berafiliasi kepada suatu kelompok berdasarkan ras, agama, orientasi seksual, dan etnis.
Ketiga stigma dimuka memiliki perbedaan dengan stigma HIV/AIDS, karena stigma ini terkait pada suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan berujung pada kematian. Stigma timbul karena adanya rasa takut tertular, dan seiring pemahaman yang berkembang tentang penyakit ini, stigma beergeser pada perilaku high-risk yang dapat menyebabkan seseorang terjangkiti virus tersebut dan juga dipandang tidak bermoral, sehingga para ODHA dirasa patut untuk menderita penyakit mematikan ini (Stein, 2003).
Kesamaan antara stigma yang dijelaskan oleh Goffman dengan stigma HIV yakni, stigma merupakan penilaian, pernyataan atau tanda negatif yang diatribusikan kepada seseorang. Proses stigmatisasi memiliki efek negatif terhadap orang yang terstigmatisasi dan objek stigma yang spesifik, sehingga individu akan terisolasi dari masyarakat. Disisi lain stigma terkait AIDS juga dapat terasosiasi dengan tipe stigma lain yang berhubungan erat dengan transmisi HIV, yakni stigma berdasarkan pelanggaran norma sosial, penggunaan narkoba suntik, kelompok etnis minoritas, ataupun orientasi seksualitas (Stein, 2003).

D.    Dimensi Stigma dan Diskriminasi
Dimensi stigma menurut Jones terdapat enam (dalam Breitkopf, 2004), yakni:
1.      Concealability, yakni sampai sejauh mana suatu kondisi dapat disembunyikan atau tidak tampak oleh orang lain.
2.      Course, menjelaskan bagaimana kondisi terstigmatisasi berubah dari waktu ke waktu.
3.      Strains, menjelaskan bagaimana hubungan interpersonal seseorang menjadi tegang.
4.      Aesthetic Qualities, menjelaskan bagaimana penampilan seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi stigmatisasi.
5.      Cause, menjelaskan apakah seseorang mengalami stigmatisasi karena bawaan dari lahir atau didapatkan.
6.      Peril, menjelaskan kemungkinan keberbahayaan pada orang lain terkait dengan kondisi terstigmatisasi.
Diskriminasi yaitu sejumlah perilaku yang membedakan seseorang berdasarkan keanggotaan dari suatu kelompok sosial. Diskriminasi terdiri atas tiga bentuk yaitu, blatant, subtle, dan covert, misalnya dlam interaksi personal, institusional, organisasional dan budaya. Berikut ini merupakan penjelasan dari ketiga bentuk diskriminasi :
1.      Blatant Discrimination, yaitu sejumlah perilaku yang tidak menyamakan dan bersifat berbahaya, yang ditujukan kepada seseorang. Tipe ini bersifat intensional, relatif dapat dilihat, dan dapat dengan mudah didokumentasikan. Sebagai contoh, seorang pria berkulit hitam, diikat dengan rantai di belakang truk dan ditarik sepanjang jalan di Texas hingga dia meninggal.
2.      Subtle Discrimination, merupakan sejumlah perilaku yang mendeskreditkan dan bersifat berbahaya. Tipe ini bersifat kurang nyata dan terlihat dibandingkan dengan tipe blatant discrimination. Hal ini sering menjadi bukan perhatian karena orang telah menginternalisasi diskriminasi ini sebagai sesuatu yang normal, natural ataupun hal yang biasa. Subtle discrimination lebih sulit untuk didokumentasikan, dan tidak bersifat intensional. Walaupun demikian, kemungkinan besar diskriminasi ini lebih sering terjadi. Sebagai contoh, seorang guru tidak memberikan perhatian kepada bakat anak kecil berkulit hitam di bidang seni. Anak ini walaupun masih duduk di kelas tiga, tapi dia dapat menghasilkan karya-karya yang orisisnil. Guru tersebut menganggap bahwa bakat tersebut tidaklah mungkin dimiliki oleh anak itu. Anak ini memiliki masalah membaca yang juga dimiliki oleh anak-anak kulit hitam lainnya di Amerika. Karakteristik inilah yang justru lebih terlihat dan disadari dari anak tersebut dibandingkan bakatnya dibidang seni.
3.      Covert Discrimination, sejumlah perilaku yang tidak menyamakan dan bersifat berbahaya, yang biasanya disembunyikan, bertujuan dan seringnya dimotivasi oleh keinginan jahat. Perilaku ini sangat sulit untuk didokumentasikan. Sebagai contoh, suatu perusahaan yang didalam peraturannya tidak menginginkan adanya diskriminasi, terjadi praktek membebani segolongan orang tertentu berdasarkan ras, dengan menyuruh menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan orang lain namun harus diselesaikan dalam tenggang waktu yang sama.

E.     Stigma Masyarakat Indonesia Terhadap Penderita HIV / AIDS dan Solusinya
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai stigma yang terkait dengan HIV/AIDS peneliti akan terlebih dahulu membahas pengertian stigma itu sendiri. Stigma merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yang merujuk pada sebauh tato yang dikenakan pada tubuh seseorang dikarenakan ia telah melakukan beberapa tindak kejahatan. Tanda tersebut menunjukkan juga adanya penurunan dan rusaknya moral seseorang, sehingga patut untuk dijauhi. Stigmatisasi ini biasanya dikenakan untuk mendiskreditkan seseorang berdasarkan agama, ras, dan gender. Stigma ini ditujukan pada hal-hal yang memalukan yang dimilliki oleh seseorang. Pada awalnya stigma juga tidak dikaitkan dengan penyakit yang diidap ataupun perilaku yang dimiliki, namun semenjak AIDS dan HIV ditemukan, stigmatisasi juga dikenakan kepada para ODHA.
Beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat terkait dengan stigma kepada penderita HIV / AIDS dan solusi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Ketakutan akan Stigma dan Diskriminasi, kendala utama penanganan HIV/AIDS
Masyarakat masih memberikan stigma dan diskriminasi kepada penderita HIV / AIDS. Faktor-faktor yang menimbulkan stigma dan diskriminasi di masyarakat adalah karena penyakit HIV / AIDS dapat mengancam jiwa, informasi yang kurang tepat mengenai penyakit HIV / AIDS dan adanya kepercayaan dimasyarakat bahwa penyakit ini adalah merupakan suatu “hukuman” atas perbuatan yang melanggar moral atau tidak bertanggungjawab sehingga penderita HIV / AIDS itu “pantas” untuk menerima perlakuan-perlakuan yang tidak selayaknya mereka dapatkan. Adanya ketakutan, stigmatisasi dan diskriminasi menimbulkan dampak penolakan dari masyarakat bahkan penolakan dari akses pendidikan dan kesehatan. Tindakan penolakan itu bisa berupa sekedar ucapan hingga berupa penyiksaan psikologis dan fisik yang traumatis. Trauma yang diterima penderita HIV menjadi bertumpuk-tumpuk, selain trauma karena tahu yang akan terjadi pada tubuhnya bila menderita HIV, juga trauma karena adanya stigma dan diskriminasi yang melekat terus sepanjang hidupnya.
Ketakutan tidak diterima masyarakat dan ditolak dimana-mana bisa menghambat kemauan para resiko tinggi menderita HIV dan orang yang dicurigai menderita HIV untuk dilakukan pemeriksaan. Mereka tidak ingin tahu dan tidak mau tahu kalau mereka menderita HIV. Padahal kemauan secara sadar untuk mendatangi fasilitas untuk mengetes positif tidaknya orang ini sangat dibutuhkan saat ini. Perkembangan di bidang kesehatan memberikan kemudahan pengetesan HIV yang sebanding dengan pengetesan gula darah, dimana Rapid Test HIV dapat dilakukan hanya dengan menggunakan sedikit darah dapat dilakukan ditingkat Puskesmas tertentu. Akan menjadi percuma dibangunnya klinik VCT di tiap RSUD dan puskesmas berbasis reproduksi bila stigma dan diskriminasi masih saja menghantui para resiko tinggi HIV/AIDS untuk menggunakan fasilitas ini.
Perkembangan penelitian obat-obatan antiretroviral maupun penelitian obat-obatan peningkat sistem imun mampu mengurangi dampak buruk dari penyakit ini. Seharusnya, penderita HIV bisa diperlakukan yang sama dengan pengindap virus yang lain. Bukankah virus Flu Babi lebih menakutkan karena bisa menular tanpa adanya kontak fisik sekalipun?. Fakta sudah membuktikan bahwa  disaat ini  HIV / AIDS sudah menjadi penyakit yang  dapat dicegah dan diterapi maka diharapkan perubahan perilaku penolakan, stigma dan diskriminasi akan dapat dikurangi.
2.      Stigma HIV/AIDS masih berkutat pada masalah seks
Awalnya memang perkembangan HIV  / AIDS dikalangan yang suka berganti-ganti pasangan, Homoseksual, dan Pekerja Seks Komersial (PSK) cukup tinggi, tetapi itu terjadi pada tahun sekitar tahun 1970 hingga tahun 1980 an. Sehingga yang terjadi di masyarakat memberikan stigma bahwa yang terkena HIV / AIDS biasanya juga dari kalangan homoseksual dan PSK. Penularan melalui hubungan seksuallah yang digembar-gemborkan sebagai penyebab utama penyakit HIV / AIDS sehingga kampanye penggunaan kondom dan safe sex pun digalakkan dimana-mana.
Kampanye dan konseling juga dilakukan pada kalangan yang dianggap beresiko tinggi terhadap penyakit HIV / AIDS ini. Bermunculan LSM dan lembaga-lembaga milik pemerintah yang menekankan perilaku seksual sebagai penyebab utama penularan penyakit ini, dan ini masih berlangsung hingga sekarang. Usaha-usaha yang telah dilakukan antara lain adalah adanya Peer Konseling, Penyuluhan Kesehatan Reproduksi, Penyluhan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), penyuluhan kepada organisasi yang menampung para homoseksual, skreening kepada pada PSK, serta fokus – fokus lain yang masih saja berkutat pada “seks”. Usaha – usaha ini sudah cukup berhasil menekan penularan HIV / AIDS lewat transmisi seksual.
3.      Paradigma baru pola transmisi HIV/AIDS yang didominasi oleh pengguna narkotika intavena dan masalah yang terkait
Padahal saat ini pola transmisi HIV / AIDS lewat seksual sudah tergeser dengan pengguna narkotika intravena terinfeksi HIV. Pada tahun 2002 saja, pengguna narkotika intravena terinfeksi HIV mencapai 50-78% dan 63% yang dirawat di UPIPI RSU Dr.Soetomo berlatar belakang pengguna narkotika intravena. Begitu pula yang terjadi didunia, pergeseran ini sudah merupakan hal yang global.
Yang menjadi masalah yang baru adalah para pengguna narkotika intravena adalah kalangan yang “eksklusif” tidak mudah untuk dijamah oleh orang-orang diluar kalangan mereka. Masalah pertama adalah pengguna narkotika intravena ini tidak memiliki wadah atau pengkoordinasi sebagaimana organisasi homoseksual atau organisasi yang mewadahi para PSK. Sehingga kesulitan terjadi untuk mendata dan memberikan konseling kepada orang-orang yang resiko tinggi dari kalangan ini, dampaknya progresivitas pertumbuhan HIV/AIDS di seluruh dunia menjadi sangat tidak terkontrol.
Masalah kedua, para pengguna ini banyak berasal dari kalangan yang dianggap “orang baik-baik” bahkan selebriti yang baru bisa terjamah setelah tertangkap tangan menggunakan narkotika. Pembuktiannya seseorang menggunakan narkotika saja cukup sulit, sehingga konseling juga jarang terjadi sebelum orang tersebut ketahuan memakainya. Masalah ketiga, penggunaan narkotika intravena itu adalah hal yang melanggar hukum sehingga tidak akan ada orang mau dengan sukarela mengakui kalau menggunakannya meskipun diiming-iming akan mendapatkan pemeriksaan dan konseling HIV/AIDS gratis. Pemeriksaan rutinpun susah dilakukan pada kalangan ini, berbeda dengan para PSK yang berada dilokalisasi yang bisa dilakukan pemantauan berkala dari pihak Puskesmas terdekat.

PEMBAHASAN STIGMA HIV / AIDS

HIV/AIDS, sebuah kasus yang tidak lagi menjadi makanan baru bagi masyarakat Indonesia. Layaknya penyakit kejadian luar biasa yang menjadi perhatian akhir-akhir ini, kasus HIV/AIDS yang pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1987 juga menjadi suatu hal yang menggemparkan dan fenomenal di masyarakat. Ironinya, iklim kegemparan HIV/AIDS tidak menjadikan suatu motivasi bagi masyarakat untuk menanggulangi penyebaran wabah ini di Indonesia. Kegemparan tersebut justru melahirkan stigma di masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS atau yang biasa dikenal dengan istilah ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Stigma terhadap ODHA dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan penderita HIV/AIDS meliputi masyarakat dan media massa, sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dari penderita itu sendiri. Kedua faktor tersebut interdependen, dalam arti baik faktor dari masyarakat, media massa, maupun pribadi saling mempengaruhi satu sama lain.
Stigma dari masyarakat muncul akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS secara menyeluruh. Masyarakat mengetahui HIV/AIDS sebatas “penyakit ini menular dan penderitanya berbahaya”. Masyarakat boleh jadi telah mengenal atau mengetahui bahwa terdapat penyakit menular yang disebut HIV/AIDS dan telah mewabah di Indonesia, namun sebagian besar masyarakat masih belum memahami secara benar faktor penyebaran dan cara penanggulangannya. Adanya ketidakpahaman ini menyebabkan timbulnya sikap over protective terhadap ODHA, seperti diskriminasi dengan tidak mau bergaul dengan ODHA dan stigma bahwa penderita HIV harus dihindari.
Pemahaman yang setengah-setengah dan tidak menyeluruh tersebut timbul karena adanya disfungsi media massa. Media massa yang merupakan sumber informasi bagi masyarakat masih memberikan informasi yang kurang jelas. Pemberitaan yang muncul lebih didominasi bahaya HIV/AIDS dibandingkan upaya untuk mencegah penyebarannya. Adanya pemberitaan yang kurang lengkap ini menyebabkan masyarakat melakukan interpretasi yang salah dalam menyikapi kasus HIV/AIDS. Dampak lebih lanjut dari pemberitaan media massa yang kurang menyeluruh ini menyebabkan masyarakat terpengaruh secara mental untuk mendiskriminasikan penderita HIV/AIDS.
Munculnya stigma di masyarakat diperkuat dengan perilaku yang timbul dari ODHA yang diakibatkan oleh masalah psikososial. Ketidakmampuan beradaptasi penderita HIV/AIDS terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya dapat mengakibatkan stress, frustasi sampai ke tingkat depresi (Aminatun, 2003). Dampak tersebut dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengalaman dan keterampilan dokter yang melakukan kontak langsung dengan ODHA sehingga dokter kurang tepat dalam mengkomunikasikan berita tersebut kepada ODHA (Kaldor, 2000). Segala macam faktor psikososial ini memperngaruhi tingkah laku ODHA sehingga mereka cenderung memilih untuk menutup diri dari masyarakat. Hal tersebut justru menambah stigma masyarakat dan memicu diskriminasi terhadap ODHA.
Stigma yang makin lama makin menguat tersebut memberikan dampak yang semakin buruk bagi ODHA. Masyarakat justru tergiring untuk mendiskriminasikan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai fakta dapat kita lihat di masyarakat seperti pemecatan ODHA dari perusahaan. Sebenarnya tindakan ini menyalahi Keputusan Menakertrans No 68/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja. Kejadian yang cukup ironi juga terjadi di rumah sakit yang mana seharusnya rumah sakit adalah tempat acuan untuk mengambil sikap terhadap ODHA. Seperti pengakuan salah seorang teman penderita HIV/AIDS di Malang, Jawa Timur yang dikutip dari health.groups.yahoo.com, teman yang menderita HIV/AIDS tersebut ingin melakukan operasi penyakit namun ditolak oleh pihak rumah sakit karena ketidaksanggupan dokter dan pihak rumah sakit untuk mengganti peralatan rumah sakit yang digunakan dalam operasi. Secara implisit hal ini menunjukkan adanya diskriminasi terhadap ODHA.
Menyikapi kuatnya stigma dan diskriminasi dikarenakan kurang mengertinya masyarakat tentang penularan HIV/ AIDS, maka diperlukan adanya regulasi yang kuat. Pemerintah, LSM, dan aktivis AIDS hendaknya bekerja sama sebagai suatu sistem yang sinergis untuk menanggulangi kasus HIV/AIDS. Sistem tersebut bekerja sama mencerdaskan masyarakat secara menyeluruh mengenai HIV/AIDS mulai dari faktor penyebaran, dampak, cara untuk menanggulangi, dan sikap yang tepat dalam menyikapi HIV/AIDS.
Paradigma masyarakat yang salah tentang HIV/AIDS sesegara mungkin harus diubah. Selama ini masyarakat menjauhi ODHA karena tidak mengetahui cara penularan HIV/AIDS. Pada dasarnya terdapat tiga jalur utama penularan HIV/AIDS. Penularan pertama yaitu melalui hubungan seksual. Apabila salah satu pasangan mengidap HIV/AIDS maka secara otomatis HIV/AIDS akan menular pada pasangan seksnya. Salah satu faktor pemungkin mewabahnya HIV/AIDS yaitu makin bertambahnya jumlah penjaja seks dan pelanggannya. Dalam kaitannya dengan hal ini, pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab dalam melaksanakan upaya penanggulangan wabah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. Pemerintah perlu membuat regulasi yang tegas untuk mengamankan perilaku berisiko tinggi tersebut dengan sosialisasi secara masif penggunaan kondom atau menutup praktik penjaja seks itu sendiri. Penularan yang kedua yaitu melalui darah yang terinfeksi HIV. Darah penderita HIV dapat ditularkan melalui transfusi darah, alat-alat bedah, jarum suntik, alat cukur, dan alat-alat lain yang memungkinkan adanya kontak darah. Dalam hal ini perlu adanya pengawasan yang cermat oleh PMI sebagai salah satu pihak yang mengelola proses transfusi darah dan juga pelayanan kesehatan lain seperti puskemas dan rumah sakit untuk mengindari adanya kontak darah. Pengawasan juga dilakukan terhadap alat-alat kesehatan yang digunakan untuk menghindari penggunaan alat tersebut lebih dari satu kali. Penularan ketiga yaitu melalui ibu yang mengidap HIV. Seorang ibu yang mengidap HIV/AIDS dapat menularkan HIV/AIDS kepada bayinya melalui plasenta.
Untuk mensosialisasikan hal tersebut, perlu adanya Gerakan Nasional HIV/AIDS (GNHA). Upaya penanggulangan HIV/AIDS tidak cukup hanya dengan penyuluhan secara sporadis dan insidental saja, namun perlu adanya gerakan nasional dengan mengerahkan segala sistem yang ada pada masyarakat untuk mendukung pengentasan HIV/AIDS di Indonesia. Dengan adanya Gerakan Nasional HIV/AIDS (GNHA) yang berkelanjutan diharapkan mampu menyedot perhatian masyarakat sehingga penanggulan HIV/AIDS dapat berjalan dengan maksimal.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, salah satu subjek yang harus berperan aktif adalah media massa. Media massa diharapkan mampu memberikan informasi yang up to date kepada masyarakat, tidak hanya mengenai bahaya tetapi juga tentang penularan hingga pengobatan. Tentunya dalam menjalankan peran ini media massa harus memperhatikan kode etik pers yang berlaku. Tanggung jawab etik pers dalam liputan HIV/AIDS akan menyangkut sejauh mana liputan tersebut tidak terjerembab pada sensasionalisme, vulgarisme, dan stigmatisasi, dan berita yang tidak proporsional yang dengan mudah akan menimbulkan “kepanikan sosial” (Siyaranamual, 1997). Media massa baik cetak maupun elektronik sedapat mungkin menghindari pemberitaan yang cenderung bersifat sensasional dan vulgar demi mengurangi stigma dan diskriminasi yang muncul dari masyarakat.
Adanya sensasionalisme, vulgarisme, dan stigmatisasi dalam liputan HIV/AIDS boleh jadi diakibatkan kurangnya keterampilan professional dari dalam tubuh media massa (Siyaranamual, 1997). Untuk menyikapi hal tersebut, maka diperlukan adanya spesialisasi dan profesionalisme dalam media massa khususnya dalam bidang kesehatan. Wartawan maupun pekerja pers haruslah memahami seluk beluk HIV/AIDS sehingga dapat mentransfer informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat serta menghindari pemberitaan yang bersifat dugaan dan prasangka. Di samping itu, perlu diperhatikan pula pemberitaan dari sudut pandang penderita HIV/AIDS. Hal ini bertujuan untuk mengurangi sensasionalisme dan vulgarisme sehingga mampu mencegah munculnya stigma dan diskriminasi dalam masyarakat.
Salah satu fungsi media massa yaitu sebagai sarana pendidikan, tentunya harus diterapkan dalam pengentasan HIV/AIDS. Media massa diharapkan mampu mengurangi gap antara informasi kesehatan dengan perilaku yang ada di masyarakat. Melalui Gerakan Nasional HIV/AIDS (GNHA), optimalisasi peran media massa dapat ditingkatkan. Setiap aspek media massa, baik cetak maupun elektronik, memiliki trik dan teknik tersendiri dalam pemberian informasi kepada masyarakat sehingga informasi tersebut tetap efektif untuk mencerdaskan masyarakat. Salah satu faktor yang perlu digarisbawahi yaitu kejelasan sasaran program intervensi tersebut. Media massa diharapkan tidak hanya menjangkau masyarakat yang melakukan perilaku berisiko saja seperti penjaja seks dan pelanggannya, namun juga seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya pencerdasan mengenai fenomena HIV/AIDS, stigma dan diskriminasi terhadap ODHA diharapkan dapat lenyap dan tergantikan oleh dukungan penuh dalam pengentasan HIV/AIDS.
Peran media massa tentu tidaklah menjadi sesuatu yang berarti jika tidak mendapatkan dukungan yang penuh dari pemerintah. Dikeluarkannya Kep. Pres RI Nomor 36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS membuktikan bahwa pemerintah turut pula berupaya dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Namun, pembentukan KPA di tingkat nasional maupun daerah saja dirasa tidaklah cukup. Perlu adanya badan independen semacam komisi khusus untuk melayani konsultasi penderita HIV/AIDS. Komisi ini diharapkan mampu menampung dan mengcover setiap permasalahan yang dirasakan oleh ODHA dalam kaitannya dengan kondisi psikososial mereka. Komisi ini harus mampu bertindak proaktif dan tidak hanya sekedar reaktif dalam mendampingi ODHA. Tujuan komisi ini terpesifikasi khusus sebagai biro konseling yaitu memberikan pelayanan, konsultasi psikologis, dan memotivasi proses perawatan HIV/AIDS. Dengan begitu, ODHA diharapkan dapat semakin membuka diri pada masyarakat dan memacu dirinya sendiri untuk dapat keluar dari stigma dan diskriminasi yang diberikan oleh masyarakat.
Penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA merupakan salah satu bagian terpenting dalam Gerakan Nasional HIV/AIDS (GNHA). Dengan penghapusan stigma dan diskriminasi, proses preventif dan kuratif terhadap kasus HIV/AIDS menjadi lebih optimal. Untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang terus menerus dari masyarakat, media massa, pemerintah, dan ODHA secara sistematis untuk menyukseskan Gerakan Nasional HIV/AIDS (GNHA) sehingga dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi dan pada tujuan akhirnya mengentaskan Indonesia dari intaian wabah HIV/AIDS.

Saran dan Solusi
Saran dan solusi yang diharapkan dalam program dukungan dalam stigma penderita HIV / AIDS adalah sebagai berikut :
1.      Melibatkan pemimpin lokal
Para pemimpin lokal, termasuk pemimpin tradisional dan agama, administrator, perkumpulan perempuan, pemuka masyarakat, wartawan, para guru dan lain-lain harus peka terhadap dampak HIV/AIDS dan terhadap keadaan penderita yang rentan. Proses pemekaan ini bertujuan untuk mendorong para pemimpin dan masyarakat mereka untuk mengambil tindakan dalam upaya mendukung anak-anak yang terkena dampak dan upaya untuk memantau mereka yang paling rentan, untuk memastikan bahwa penderita tersebut berada di bawah pengawasan, di sekolah, untuk mengakses beberapa pelayanan yang dibuthukan dan mewujudkan hak-hak asasi lainnya. Hal penting khusus lainnya adalah memberi peringatan pada para pemimpin akan adanya resiko pelecehan seksual dan pengeksploitasian yang sedang dihadapi penderita ini, dan akan pentingnya upaya menciptakan suatu budaya untuk menolak perlakuan pelecehan dan penanganan kekerasan secara efektif. Upaya peningkatan kesadaran ini memberi perhatian yang lebih dibutuhkan bagi penderita yang rentan dan mendorong tindakan terarah secara lokal dalam merespon kebutuhan yang telah teridentifikasi.
2.      Mengajak masyarakat untuk berbicara secara lebih terbuka tentang HIV/AIDS
Kurangnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS, penyampaian informasi yang salah dan sikap yang negatif terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dapat merusak kemauan suatu masyarakat untuk menyediakan beberapa kebutuhan mereka yang terkena dampak penyakit ini. Sebagai pelengkap rasa kuatir mereka terhadap penyakit ini, masyarakat menghubungkan AIDS dengan perilaku mereka yang tidak dapat mengampuni dan mendiskriminasi mereka yang terjangkit. Di beberapa tempat, rasa takut dan stigmatisasi telah menelantarkan penderita yang telah positif terinfeksi HIV dan terkadang anak-anak yang menjadi yatim akibat AIDS tidak mendapat pengasuhan. Informasi dapat membantu mengurangi stigma dan diskriminasi seputar epidemi. Beberapa upaya untuk membuka suatu dialog masyarakat mengenai HIV/AIDS dapat menghilangkan mitos, meningkatkan kesadaran dan melahirkan rasa belas kasih. Anak-anak dan remaja merupakan partisipan penting dalam proses ini. Klub remaja, kelompok keagamaan, sekolah dan struktur masyarakat lainnya menawarkan peluang yang memungkinkan untuk penyebaran informasi dan dialog.
3.      Mengatur dan mendukung kegiatan-kegiatan yang kooperatif
Masyarakat miskin memberikan beberapa contoh penggunaan sumber daya setempat yang tersedia untuk membantu anak-anak dan rumah tangga yang menjadi rentan oleh HIV/AIDS. Beberapa kelompok masyarakat dapat memberikan bantuan langsung pada penderita tersebut. Mereka juga dapat membantu keluarga yang terjangkit AIDS untuk memberikan kebutuhan dasar penderita pada keluarga mereka. Beberapa kegiatan berhasil telah melibatkan peran masyarakat untuk memantau dan mengunjungi rumah tangga yang terkena dampak penyakit ini; Beberapa program sukarela telah menyediakan bantuan psikososial yang paling dibutuhkan; perkebunan bersama; pelayanan pengasuhan penderita milik masyarakat; komunitas sekolah; ketentuan pekerja lepas dan kelonggaran untuk mengasuh; pengumpulan dana untuk penyediaan bantuan materi; pelindung masyarakat; dan organisasi keremajaan dan beberapa program rekreasi. Sebagaimana di Malawi dan Uganda, beberapa kegiatan ini sering diselenggarakan dan didukung oleh komite pembinaan masyarakat. Inisiatif tingkat distrik yang berskala lebih luas serta beberapa program pembinaan nasional dapat disesuaikan untuk mendukung beberapa upaya yang dilakukan. Mengikutsertakan peran masyarakat untuk membawa beberapa upaya ini dalam suatu skala akan membuat suatu perbedaan yang besar dalam kehidupan anak yatim dan anak-anak yang rentan. Pendekatan ini akan memberi tambahan keuntungan untuk meningkatkan suatu pengertian masyarakat akan identitas mereka sendiri serta kekuatan mereka dalam mengatasi permasalahan mereka sendiri.
4.      Mempromosikan dan mendukung kepedulian masyarakat terhadap penderita yang tidak mendapat dukungan keluarga
Sebagian penderita, paling tidak untuk sementara, tidak akan mampu untuk mendapatkan akses pengasuhan berbasis keluarga dalam masyarakat mereka sendiri. Beberapa upaya diperlukan untuk mengembangkan upaya pengasuhan (fostering). Peningkatan secara dramatis akan kemampuan pengasuhan dalam masyarakat penderita itu sendiri merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi. Sementara pemerintah bekerja untuk mengembangkan pelayanan pengasuhan dan adopsi, masyarakat dapat memberikan dukungan untuk meningkatkan kemauan keluarga untuk membawa penderita mereka ke dalam rumah tangga angkat mereka, meskipun hanya untuk sementara. Masyarakat dapat juga membantu memantau rumah tangga ini untuk untuk memastikan bahwa para pengasuh baru ini dapat mengatasi kebutuhan yang meningkat dan bahwa penderita tidak diperlakukan buruk dan tidak dieksploitasi.


Referensi :
Aminatun Siti, (2003), “Pengkajian tentang Wawasan Masyarakat dalam Penanggulangan Masalah AIDS”, Yogyakarta: Departemen Sosial RI.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (2009), http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php,.
Kaldor John, (2000), Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan RI, “Penilaian Eksternal tentang HIV/AIDS: Indonesia, November 1999”, Jakarta : Departemen Kesehatan.
Komisi Penanggulangan AIDS, (2010), Mengenal dan Menanggulangi HIV – AIDS.
Komisi Penanggulangan AIDS, (2010), HIV – AIDS Infeksi Menular Seksual dan Narkoba.
Mukhotib MD., (2010), Wajah – Wajah Yang Terlupakan (Missing Faces), PKBI Jawa Tengah.
Siyaranamual Julius R., (1997), “Etika, Hak Asasi, dan Pewabahan Aids”, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
UNAIDS, (2004), Kerangka Kerja Untuk Perlindungan, Perawatan Dan Bantuan Bagi Anak Yatim Dan Anak-Anak Yang Rentan Yang Hidup Di Dunia Hiv Dan Aids.
UNAIDS, (2002), Joint United Nations Programme on HIV/AIDS, et al., HIV/AIDS and Education: A strategic approach, Geneva.


Jumat, 27 Mei 2011

DERITA ANAK YATIM - PIATU PADA KELUARGA DENGAN HIV & AIDS

Ahmad Kholid


Editor : Ahmad Kholid

DEFINISI ANAK YATIM
Maternal orphan (anak yatim) adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun yang mana ibu atau mungkin bapaknya telah meninggal dunia (termasuk anak yatim piatu).
Paternal orphan (anak piatu) adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun yang mana bapak, dan mungkin ibunya telah meninggal dunia (termasuk anak yatim piatu).
Double orphan (anak yatim piatu) adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun yang mana ibu dan bapaknya telah meninggal dunia.
Walaupun data statistik yang tersedia saat ini adalah data tentang anak yatim yang berusia di bawah 15 tahun, namun Children on the Brink 2004 akan melaporkan data perkiraan tentang anak yatim yang berusia di bawah 18 tahun, untuk menyesuaikan dengan definisi anak-anak yang disebutkan dalam Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak.
Sebagian besar anak-anak yatim akibat AIDS hidup di negara-negara berkembang, dan kebanyakannya (82 persen) tinggal di Sub-Sahara Afrika. Akibat penyebaran infeksi ini, jumlah anak-anak yang telah kehilangan orang tua mereka akibat AIDS kini mulai meningkat di beberapa kawasan lain, termasuk Asia, Amerika latin dan Karibia serta Eropa timur.

Prosentase jumlah anak yatim yang berusia di bawah 15 tahun, kawasan dan faktor penyebab, 1990-2010.



Walaupun tidak tersedia perkiraan yang tepat, namun ada lebih banyak anak-anak yang rentan akibat dampak HIV/AIDS. Kerentanan ini disebabkan oleh faktor kemiskinan, kelaparan, konflik bersenjata dan praktik-praktik perburuhan anak yang merugikan, di samping ancaman-ancaman lain, yang semuanya menjadi pemicu atau dipicu oleh wabah tersebut. Di negara-negara yang paling terkena dampaknya, para orang tua, kerabat dewasa, guru, pekerja layanan kesehatan dan pihak-pihak lain yang diperlukan untuk dapat bertahan hidup, pembinaan dan perlindungan terhadap anak-anak mengalami hambatan akibat jumlahnya yang tidak sebanding. Jutaan anak-anak hidup bersama orang tua mereka yang sakit atau bahkan sekarat atau hidup dalam rumah tangga miskin yang mengambil anak-anak yatim. Masyarakat mereka telah dilemahkan oleh HIV/AIDS, demikian pula halnya dengan sekolah mereka, sistem pemberian layanan kesehatan serta jaringan bantuan sosial lainnya. Masalah-masalah yang kompleks dan saling berkaitan di antara anak-anak dengan keluarga mereka yang terkena dampak HIV/AIDS diilustrasikan dalam diagram di bawah ini.
  
Masalah Di antara Anak-anak dan Keluarga yang Terjangkit HIV/AIDS



Meskipun hanya sebagian anak-anak yang terkena dampak AIDS kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka, namun dampaknya sangat besar terhadap mereka. Dalam keadaan normal, kematian salah satu orang tua mereka tidak terkait dengan kematian orang tua mereka yang lain.
Namun dikarenakan HIV adalah penyakit yang menular melalui hubungan seks, maka kemungkinan kedua orang tua mereka akan mati bila salah satu di antaranya tertular adalah sangat tinggi. Di samping itu, banyak anak-anak kehilangan kedua orang tua mereka dalam waktu relatif singkat. Menurut perkiraan, pada tahun 2010 jumlah anak-anak di benua Sub-Sahara Afrika yang akan kehilangan kedua orang tua mereka akibat AIDS diperkirakan meningkat menjadi 8 juta, dari 5,5 juta yang tercatat di tahun 2001. Dikarenakan oleh penyebaran wabah ini, maka kecenderungan serupa diperkirakan dapat juga terjadi di kawasan-kawasan lain di dunia ini.

Jumlah anak yatim piatu di Afrika sub-Sahara meningkatkan akibat HIV/AIDS



Anak-anak sangat mungkin terkena dampaknya karena orang tua mereka jatuh sakit dan meninggal dunia, sehingga mereka rentan terhadap penderitaan yang berkepanjangan seperti yang sering ditandai oleh:
Kesulitan ekonomi - Dengan terancamnya sumber daya perekonomian keluarga dan tabungan yang dihabiskan untuk biaya perawatan, maka kapasitas rumah tangga untuk menyediakan kebutuhan pokok anak-anak menjadi berkurang. Semakin banyak anak-anak yang terpaksa mengambil-alih tanggungjawab yang berat untuk menghidupi keluarga mereka.
Kurang cinta kasih, perhatian dan kasih sayang - Hilangnya salah satu orang tua mereka sering mengakibatkan anak-anak tersebut dilepas tanpa memperoleh pengasuhan yang responsive secara terus-menerus. Stimulasi antar pribadi dan lingkungan serta kasih sayang dan kesenangan mereka mungkin juga terampas.
Berhenti sekolah - Tekanan ekonomi dan tanggung-jawab untuk merawat orang tua dan adik-adik mereka dapat menyebabkan anak-anak berhenti sekolah, walaupun mungkin orang tua mereka masih hidup.

Kamis, 21 April 2011

ASI EKSKLUSIF & MANFAATNYA

Ahmad Kholid

Definisi
ASI eksklusif adalah memberikan ASI saja pada bayi sampai bayi berumur 6 bulan (UNICEF-WHO, 1993).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur 0 sampai 6 bulan bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini (Depkes RI, 2006).

Keuntungan ASI Eksklusif Bagi Bayi
Menurut Roesli (2008) ASI eksklusif dan menyusui eksklusif memberikan beberapa keuntungan pada anak, yaitu :
1.    ASI mengandung nutrisi yang optimal baik secara kualitas maupun kuantitas Komposisi ASI seorang ibu meliputi: a). Kolustrum (ASI pertama yang keluar sampai hari ke-4 atauke-7). b). ASI transisi (yang keluar pada hari ke-4 atau ke-7 sampai hari ke-10 atau ke-14. c). ASI matang (ASI yang keluar setelah hari ke-14). d). Foremilk (ASI yang keluar pada menit-menit pertama), dan e). Hindmilk (ASI yang keluar pada saat akhir menyusui). Komposisi masing-masing jenis susu di atas berbeda beda dan semuanya bermanfaat bagi bayi. Meningkatkan kesehatan (anak ASI lebih sehat) Pemberian ASI terbukti dapat menghindarkan anak dari beberapa penyakit diantaranya adalah :
a.    Gastroenteritis, Di USA 400 bayi meninggal/tahun yang disebabkan oleh gastroenteritis, dan 300 kasus diantaranya dikarenakan tidak disusui. Dan kematian akan meningkat 23,5 kali pada bayi yang diberi susu formula.
b.    Kangker pada anak Kangker pada anak seperti lymphoma maligna, hodgkin, leukimia, neuroblastoma dan sebagainya. Kangker pada anak 6-8 kali lebih sering terjadi pada anak yang diberi susu formula.
c.    Alergi ASI dapat mencegah terjadinya alergi, termasuk eczema, alergi makanan dan alergi pernafasan. selama masa anak-anak. Anak yang diberi ASI 16 kali akan lebih jarang dirawat di rumah sakit (Roesli, 2000).
2.    ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang (bonding) Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu akan merasakan kasih saying ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tenteram, terutama karena masih dapat mendengar detak jantung ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan terlindungi dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan membentuk kepribadian yang percaya diri dan dasar spiritual yang baik.
3.    Meningkatkan kecerdasan Ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik atau faktor bawaan menentukan potensi genetik/bawaan yang diturunkan oleh orang tua. Faktor ini tidak dapat dimanipulasi ataupun direkayasa. Adapun faktor lingkungan adalah factor yang menentukan apakah factor genetik akan dapat tercapai secara optimal. Faktor ini mempunyai banyak aspek dan dapat dimanipulasi ataupun direkayasa. Secara garis besar terdapat tiga jenis kebutuhan untuk factor lingkungan yaitu ASUH, ASIH dan ASAH.
  • ASUH (kebutuhan untuk pertumbuhan fisik-otak) ASUH menunjukkan kebutuhan bayi untuk pertumbuhan otaknya. Untuk pertumbuhan suatu jaringan sangat dibutuhkan nutrisi/makanan yang bergizi. Dan ASI memenuhi kebutuhan ini, karena pada ASI terdapat taurin, laktosa, asam lemak ikatan panjang (AA, DHA, omega-3 dan omega-6), dimana zat-zat ini diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi (Roesli, 2000)
  • ASIH (Kebutuhan untuk perkembangan emosional dan spiritual) Yang terpenting disini adalah pemberian kasih sayang dan perasaan aman. Seorang anak yang merasa disayangi akan mampu menyayangi lingkungannya, sehingga ia akan berkembang menjadi manusia dengan budi pekerti dan nurani yang baik. Selain itu seorang bayi yang merasa aman, karena merasa dilindungi akan berkembang menjadi orang dewasa yang mandiri dengan emosi yang stabil. ASI eksklusif memenuhi kebutuhan awal untuk hal ini.
  • ASAH (Kebutuhan untuk perkembangan intelektual dan sosial) Menunjukkan kebutuhan akan stimulasi/ rangsangan yang akan merangsang perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Ibu yang menyusui merupakan guru pertama yang terbaik bagi bayinya. Seringnya bayi menyusu membuatnya terbiasa berhubungan dengan manusia lain dan dalam hal ini dengan ibunya. Dengan demikian perkembangan sosialisasinya akan baik dan ia akan mudah berinteraksi dengan lingkungannya kelak.

Jadi ASI dan menyusui secara eksklusif akan menciptakan faktor lingkungan yang optimal untuk meningkatkan kecerdasan bayi melalui pemenuhan semua kebutuhan awal dari factor-faktor lingkungan.

Manfaat Menyusui
Berikut ini adalah manfaat yang didapatkan dengan menyusui bagi bayi, ibu, keluarga, dan negara.
1.    Manfaat bagi bayi
  1. Komposisi sesuai kebutuhan.
  2. Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan.
  3. ASI mengandung zat pelindung.
d.    Perkembangan psikomotorik lebih cepatMenunjang perkembangan kognitif.

Jumat, 01 April 2011

HASIL PKMD AKPER NGUDI WALUYO DI DESA KALIKURMO

Ahmad Kholid
Hasil Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
AKPER Ngudi Waluyo di Desa Kalikurmo, Kec. Bringin, Kab. Semarang 
Maret 2011
  
Dalam rangka pencapaian agenda MDG’S yang terkait secara tidak langsung terhadap kesehatan, penanganannya memerlukan lintas integrasi program dengan sektor lain. Sebagaimana kita ketahui faktor sosial dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gap dalam tingkat pendidikan, pendapatan, gender, kesulitan medan geografis, ketersediaan air bersih serta kesehatan lingkungan yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Sehingga untuk mengatasi permasalahan kesehatan pada umumnya hanya akan terwujud bila Kementerian Kesehatan bersama jajarannya selaku sektor yang bertanggungjawab, bersama dengan berbagai pihak terkait (antara lain lintas sektor, pemerintah daerah, profesi, akademisi, swasta, pendidikan lembaga swadaya masyarakat, donor agencies, serta organisasi agama, organisasi kewanitaan, dll) secara bersama untuk mencapai tujuan agenda MDG’S. 

Sesuai dengan tema tersebut diatas, kami melakukan kegiatan bentuk pengabdian masyarakat dengan pendekatan sesuai dengan tema program MDG's. Adapun hasil kegiatan tersebut diuraikan pada kolom PDF di bawah ini...semoga bermanfaat bagi pembaca...



Untuk Download Hasil PKMD Silahkan Klik Link Dibawah ini :

Minggu, 13 Maret 2011

TIPS AMAN MEMBERIKAN SUSU FORMULA PADA BALITA

Ahmad Kholid




Kontaminasi susu formula yang mengandung Enterobacter Sakazakii membuat banyak kalangan khawatir. Akibatnya, tak sedikit orangtua yang bingung bagaimana agar sang buah hati dapat minum susu tanpa harus terkontaminasi bakteri tersebut.

Dari situs Fakultas Pertanian IPB, ada beberapa cara agar infeksi E. Sakazakii dikurangi. Bila si kecil terpaksa minum susu formula, ada beberapa cara penyajian agar lebih aman bagi kesehatan.

1. Bila sebelumnya menyeduh susu dengan air hangat, kini ubahlah cara penyajiannya. Yakni, merendam susu bubuk dengan air panas (85-100°C) selama 1-2 menit sebelum ditambahkan air dingin untuk mereduksi jumlah koloni hidup bakteri.

2. Tidak menggunakan produk susu bubuk yang kemasannya telah terbuka cukup lama, lebih dari 8 hari atau dibeli dalam kemasan yang sudah tidak baik atau bocor.

3. Menyimpan susu bubuk yang telah terbuka kemasannya dalam lemari pendingin bersuhu dibawah 5°C untuk mencegah pertumbuhan mikroba, termasuk E. sakazakii.

4. Mencuci bahan makanan yang biasa dimakan mentah dengan sanitiser, bukan hanya air mengalir, untuk mereduksi kontaminasi mikroba pada bahan pangan tersebut.

5. Tidak dianjurkan menggunakan susu formula bagi bayi di bawah usia 6 bulan. Penggunaan susu formula pada bayi 0-6 bulan sebaiknya berkonsultasi pada dokter atau tenaga medis, terutama sekali bayi lahir prematur atau yang memiliki daya tahan lemah.

6. Waspada terhadap gejala demam dan diare yang merupakan indikasi infeksi, apapun mikroorganismenya, bukan hanya E. sakazakii.

Minggu, 20 Februari 2011

LANGKAH - LANGKAH DESAIN HEALTH PROMOTION HOSPITAL

Background



By : Ahmad Kholid

 




A.    Planning

1.      Langkah 1 : Pahami Pasar dan Kompetisinya.

Ini adalah kesalahan umum yang sering dilakukan bisnis / pemasaran. Sebuah pasar yang menguntungkan, adalah pasar yang penuh dengan orang-orang yang begitu putus asa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan (menginginkan pelayanan kesehatan yang bagus). Hingga mereka akan berlari dan berebut untuk mendapatkan produk atau jasa yang ditawarkan.

Hal – hal yang perlu dikaji dalam perencanaan pada pasar :

a.       Masih ada tidak bagian dari produk jasa kesehatan di rumah sakit yang belum terpenuhi secara maksimal ?

b.      Berapa banyak dan besar yang harus rumah sakit lakukan agar bisa menang dalam jasa pelayanan ?

c.       Seberapa berat kompetisi yang harus dihadapi oleh rumah sakit ?

d.      Kelemahan apa yang dimiliki para pesaing, agar rumah sakit kita bisa memanfaatkan peluang ?

2.      Langkah 2 : Pahami Konsumen.

Mengenali konsumen secara mendalam adalah langkah awal untuk menghasilkan produk yang kita jual. Sampai benar-benar tahu siapa target promosi kesehatan kita, apa yang masyarakat / konsumen inginkan, dan apa yang bisa memotivasi masyarakat untuk mau produk kita.

3.      Langkah 3. Pilih Sebuah Niche.

Target rumah sakit adalah "masyarakat", akan tetapi perlu mencari sebuah niche yang kecil dan sempit sesuai sasaran pesan yang akan kita sampaikan, berusahalah untuk mendominasinya. Baru kemudian kita mempertimbangkan untuk mencari niche berikutnya. Pastikan juga untuk memilih niche yang membuat tertarik. Tidak ada yang lebih destruktif selain memilih niche yang tidak bisa membuat kita terus merasa tertarik.

4.      Langkah 4. Tentukan Pesan-pesan Promosi Kesehatan.

Pesan-pesan marketing rumah sakit tidak cuma bertujuan untuk memberitahu target mengenai apa yang dilakukan, tapi juga berusaha untuk meyakinkannya agar menjadi konsumen rumah sakit. Ada dua macam pesan yang harus kau kembangkan.

Yaitu:

a.       Pertama, pesan-pesan yang singkat dan langsung ke sasaran (to the point). Pesan-pesan ini untuk menjawab pertanyaan " apa yang kita lakukan?"

b.      Yang kedua, yaitu pesan-pesan yang lengkap dan berisi semua materi promosi kesehatan.

5.      Langkah 5. Tentukan Media Promosi Kesehatan.

Media yang akan menjadi kendaraan untuk mengantarkan pesan-pesan marketing promosi kesehatan. Sangat penting untuk mencari dan memilih jenis media yang memberikan hasil tertinggi tapi dengan biaya terendah. Triknya adalah menyesuaikan antara pesan-pesan marketing, target, dan media yang digunakan.

 

B.     Idea


Ruang lingkup promosi kesehatan di rumah sakit :

1.      Di dalam gedung:

a.       Promosi kesehatan di ruang pendaftaran :

1)      Sambutan berupa salam hangat untuk membuat pasien/klien merasa tenteram berada di RS.

2)      Media: poster, neon box dengan foto dokter & perawat yang ramah disertai tulisan dan rekaman suara “SALAM”

b.      Promosi kesehatan bagi pasien rawat jalan :

1)      Pemberdayaan melalui konseling: idealnya dilakukan semua petugas, tetapi jika tidak ada sediakan ruangan khusus konseling di setiap poliklinik. Bisa dilakukan secara individu atau kelompok, medianya misalnya: gambar-gambar, model anatomi, tayangan,

2)      Bina suasana: dilakukan terhadap pengantar pasien atau pasien sendiri khususnya di ruang tunggu. Media: poster, liflet (boleh diambil), TV & VCD/DVD Player.

3)      Advokasi: terutama untuk mendapatkan dukungan bagi pasien miskin kepada pengusaha sukses atau donatur lain,

c.       Promosi kesehatan bagi pasien rawat inap :

1)      Pemberdayaan dilakukan terhadap pasien penyakit kronis dan/atau pasien dalam masa penyembuhan (bukan kepada pasien akut). Cara: (1) bedside counseling, (2) biblioterapi, & (3) konseling kelompok,

2)      Bina suasana: terutama ditujukan kepada para pengunjung pasien/pembesuk; melalui (1) pemanfaatan ruang tunggu, (2) pembekalan pembesuk secara berkelompok, dan (3) pendekatan keagamaan,

d.      Promosi kesehatan dalam pelayanan penunjang medik; PKRS di pelayanan lab, Rontgen, obat/apotek, pemulasaran jenazah.

2.      Di luar gedung: di tempat parkir, di taman RS, di dinding luar RS, di pagar pembatas kawasan RS, di kantin/kios di kawasan RS, di tempat ibadah.

Penempatannya, antara lain:

a.       Di dinding luar RS: di waktu-waktu tertentu, misalnya hari kesehatan nasional, hari kesehatan sedunia, dll. Media: hanya 1-2 giant banner selama beberapa hari saja,

b.      Di pagar pembatas kawasan RS: khususnya yang berbatasan dengan jalan, seiring dengan pemanfaatan dinding luar RS. Media: hanya beberapa spanduk biasa.

 

C.    Communication dan Decision


1.      Communication

Komunikasi pemasaran melalui kegiatan promosi kesehatan dengan periklanan merupakan salah satu strategi dalam memperkenalkan atau menjelaskan produk jasa rumah sakit yang di pasarkan. Strategi yang sering dipergunakan dalam membidik konsumen adalah adanya pengelompokan pasar/segmen sebagai wilayah calon konsumen/pemakai. Pemilihan kelompok konsumen yang spesifik akan lebih mudah mengkomunikasikan produk pelayanan rumah sakit melalui media periklanan. Ciri atau karakter pada sekelompok konsumen rumah sakit merupakan data untuk memudahkan memasarkan produk promosi kesehatan rumah sakit.

Maksud rumah sakit terhadap tampilan produk jasa pelayanan yang dipublikasikan melalui periklanan, antara lain:

a.       Memperkenalkan identitas produk promosi kesehatan rumah sakit yang diinformasikan dan menjelaskan perbedaan produk pelayanan rumah sakit dengan yang lain.

b.      Mengkomunikasikan konsep produk promosi kesehatan rumah sakit, yaitu manfaat dan kelebihannya dari segi fungsional, psikologis, atau nilai pasar sasaran konsumen.

c.       Mengarahkan pemakaian produk baik yang lama atau yang baru kepada sasaran / konsumen.

d.      Memberitahukan tempat penjualan atau pembelian untuk merangsang ditribusi yang lebih luas.

e.       Meningkatkan penjualan / pelayanan jasa yang berarti pula tingkat kunjungan rumah sakit meningkat.

f.       Membangun citra promosi kesehatan dan menjaga kemampuan posisi rumah sakit dalam pandangan konsumen.

g.      Menghadapi dan mengatasi masalah saingan antar produk promosi kesehatan rumah sakit lainnya.

Informasi media promosi kesehatan yang lancar dan mudah dipahami oleh masyarakat (konsumen) akan memberikan tanggapan yang positif bagi konsumen. Informasi yang jelas secara visual maupun verbal dan tidak menyinggung perasaan konsumen akan menguntungkan dipihak rumah sakit. Harapan positif di hati masyarakat merupakan tujuan utama rumah sakit dalam menawarkan produknya pelayanan kesehatan, sehingga bisa diterima di pasaran. Berbagai cara rumah sakit dalam mempromosikan produknya melalui periklanan diharapkan mendapatkan citra positif konsumen.

 

2.      Decision

Begitu banyak perhatian dapat ditujukan untuk tujuan-tujuan, isi, strategi, dan metode program promosi kesehatan sehingga 'proses' pelaksanaan sering kali diabaikan. Parkinson (1982) mengklasifikasikannya dengan tiga pendekatan;

a.       The pilot approach. Ini adalah langkah pertama yang penting dalam melaksanakan program promosi kesehatan. Green (1986) menyebutnya sebagai site response, yaitu mendapatkan umpan balik dari para peserta yang terlibat dalam program, serta dari staf perencana, pada kualitas program dalam semua dimensi-dari bahan-bahan pendidikan (misalnya, pamflet atau menampilkan ) dari kelayakan staf yang dipilih untuk menyampaikan program. Umpan balik yang berharga dari fase pilot ini juga dikenal sebagai proses evaluasi, evaluasi dari suatu proses termasuk kedalam fase pelaksanaan.

b.      The phased-in approach. Hal ini terjadi ketika program tersebut dilaksanakan di berbagai tempat, daerah atau wilayah. Sebuah program percontohan mungkin menghasilkan proses evaluasi yang positif, dan / atau evaluasi mungkin telah menghasilkan penyesuaian program. Keputusan ini kemudian dibuat untuk membuat atau memfasekan program tersebut menjadi berbagai pengaturan dari waktu ke waktu karena keterbatasan sumber daya, kebutuhan akan bahan-bahan yang lebih tepat, atau timelinenya.

c.       Immediate implementation of the total program. Program yang telah efektif di masa lalu, atau program yang mempunyai pendekatan yang standar, sering diimplementasikan secara totalitas.

Secara keseluruhan suatu pendekatan pilot pada setiap program yang baru dikembangkan adalah suatu keharusan. Pendekatan ini berfungsi untuk melibatkan komunitas Anda dalam desain, proses evaluasi dan pelaksanaan, sehingga memastikan komitmen dari masyarakat itu sendiri.


7 TAHAP PERENCANAAN STRATEGIS PROMOSI KESEHATAN

Background


7 TAHAP PERENCANAAN STRATEGIS PROMOSI KESEHATAN


By : Ahmad Kholid


Strategis menjelaskan hasil yang diinginkan dan cara dalam pencapaian tujuan yang akan dicapai pada hasil pelaksanaan tetapi tidak selalu masuk ke detail tentang metode atau mengukur hasil. Perencanaan strategis mengacu pada perencanaan sebuah kegiatan berskala besar yang melibatkan berbagai intervensi pada patner yang berbeda dan bertahap.

Pada “English white paper on Public Health” disebutkan bahwa perencanaan strategis mengacu pada kebutuhan yang telah digabungkan dan kebijakan yang terkait. Ewles dan Simnett (1995) menggambarkan beberapa tingkat/taraf dalam pengembangan strategi meliputi :

1.       Identifikasi kegemaran patner

2.       Diagnose, yaitu identifikasi kemana dan bagaimana kita menginginkan sesuatu yang berbeda

3.       Visi, yaitu terkait dengan hasil yang diharapkan

4.       Pembangunan, kebutuhan untuk merubah permintaan sesuai dengan apa yang dicitakan dan apakah Program yang ada sejalan dengan harapan.

5.       Rencana pelaksanaan, yaitu rencana mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya

 

Model Perencanaan Promosi Kesehatan

Menurut Ewles dan Simnett (1995), kerangka kerja perencanaan promosi kesehatan dapat meliputi :

 

Stage 1: Identifikasi kebutuhan dan prioritas

Identifikasi kebutuhan dan prioritas memerlukan penelitian dan penyelidikan, atau mungkin dengan menyeleksi sebagian klien dilihat dari kasus yang menjadi problem. Identifikasi kebutuhan dapat dilakukan dengan melakukan penyelidikan/penelitian secara berurutan terhadap keadaan klien, bertanya langsung kepada klien tentang topik terkait informasi dan nasehat yang mereka perlukan. Selain itu, identifikasi dapat juga melihat pada cataan kasus untuk dapat mengidentifikasi topik yang bersifat umum. Contoh: tim kesehatan mungkin mengetahui bahwa banyak orangtua bermasalah dengan pola tidurnya, oleh karena itu pimpin atau beri arahkan kepada mereka untuk melakukan set up di klinik masalah tidur.

Model perencanaan lainnya dimulai dari perbedaan pint, contoh: pada Model perencanaan Tone’s (Tones, 2010) memulai dengan menetapkan tujuan promosi kesehatan yang kemudian dianalisa untuk menetukan intervensi pendidikan/promosi kesehatan yang tepat. Intervensi yang dilakukan dimodifikasi dengan merujuk karakteristik pada kelompok target, dan detail rencana program prendidikan. Model perencanaan Tone’s fokus pada intervensi pendidikan, keberlangsungan dari strategi nasional pada promosi kesehatan melengkapi tujuan promosi kesehatan dalam pelaksanaan. Menurut Minkler, M. Ed. (1997) model perencanaan dimulai dengan menyusun atau mengatur sebuah kelompok kerja untuk mengkaji ulang (review) masalah dan identifikasi proyek promosi kesehatan yang sesuai dengan kasus/masalah yang ada.

 

Stage 2: Mementukan tujuan dan target

Tujuan mengacu pada goal dengan meningkatkan kesehatan di beberapa area, contoh: mengurangi konsumsi alcohol karena berhubungan dengan terjadinya gangguan kesehatan. Objek atau sasaran membuhkan pernyataan spesifik dan harus merupakan pernyataan yang mengaktifkan objek bekerjasama dalam pencapaina tujuan yang dicita-citakan bersama. Objek atau sasaran kemudian diarahkan untuk diberi pendidikan, menciptakan kebiasaan yang sehat, mengacu pada kebijakan yang terkait, dan menganalisa proses serta hasil kelingkunga. Pendidikan objek/sasaran mungkin memutuskan beberapa kategori meliputi:

1.       Level pengetahuan klien (objek) bertambah, terkait dengan masalah yang dibahas dalam promosi kesehatan

2.       Affektif klien (objek) mengalami perubahan menuju pola hidup lebih sehat, yang dapat dilihat pada perubahan tingkah laku dan kepercayaan

3.       Kebiasaan atau ketrampilan klien bertambah/ semakin mahir pada kompetensi dan ketrampilan baru.

Target promosi kesehatan dapat meliputi tambaha sebagai berikut :

a.       Perubahan kebiasaan, meliputi perubahan gaya hidup dan peningkatan pelayanan. Contoh: mengurangi kebiasaan merokok

b.      Perubahan pada kebijakan kesehatan

c.       Peningkatan partisipan dalam proses pelaksanaan dan kemampuan untuk bekerjasama. Contoh: meningkatkan/menggerakkan komunitas (partisipan) di sector dalam guna mendukung program Indonesia sehat MDGs 2014.

d.      Perubahan lingkungan menjadi lebih sehat, contoh membudayakan membuang sampah pada tempatnya.

 

Stage 3: Identifikasi metode yang tepat dalam pencapaian tujuan

Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan promosi kesehatan yang akan dicapai dan memperhatikan segi objek, artinya metode yang digunakan mampu memberi reflek pada objek/target yang dituju.


Metode tertentu terkadang tidak cukup efektif digunakan pada objek tertentu. Misalnya, pada promosi kesehatan yang diadakan pada sekelompok kecil akan lebih efektif dalam memberikan pendidikan dan melihat terjadinya perubahan perilaku pada objek sebagai hasil dari pelaksanaan sehingga metode pengajaran dapat dilakukan oleh individu atau sekelompok kecil tim kesehatan. Sedangkan, pada taraf komunitas, metode promosi keehatan akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara beerjasama dengan pemerindah daerah yang terkait guna mendukung pelaksanaan promosi kesehatan yang akan dijalankan. Media massa juga dapat menjadi metode promosi kesehatan pada cakupan objek yang lebih kompleks lagi. Melalui media massa akan lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan terhadap topic kesehatan, akan tetapi kurang efektif untuk mengukur atau menilai terjadinya perubahan perilaku dari objek sasaran. Oleh karena itu, dalam pemilihan metode promosi kesehatan harus selalu menghubungkan antara tujuan, objek yang menjadi sasaran, pengetahuan dan juga ketrampilan dari tim kesehatan sehingga topic kesehatan tidak hanya dimengerti tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan sehingga diperoleh perubahan perilaku menuju kearah kebiasaan pola hidup sehat.


Satge 4: Identifikasi sumber yang terkait

Ketika objek dan metode telah diputuskan, tingkat perencanaan selanjutnya adalah mempertimbangkan mengenai sumber spesifik yang dibutuhakan dalam mengimplementasi strategi pelaksanaan. Sumber dapat berupa dana, ketrampilan dan keahlian, bahan seperti selebaran atau kotak pembelajaran, kebijakan yang menarik, rencana, fasilitas dan pelayanan.


Stage 5: Menyusun metode rencana evaluasi

Evaluasi harus berhubungan tujuan/sasaran yang telah disusun sebelumnya tetapi dapat diusahakan lebih dari tujuan yang telah ditapkan atau kurang dari yang dicita-citakan. Evaluasi dapat kita lakukan dengan menanyakan pada partisipan mengenai pemahaman informasi pada akhir sesi atau dapat juga dalam bentuk lebih formal seperti dengan menbagikan kuisioner kepeda peserta/partisipan untuk diisi sesuai apa yang dipahami atau dimengerti setelah pelaksanaan promosi keehatan.


Stage 6: Menyusun rencana pelaksanaan

Penyusunan rencana pelaksanaan merupakan tindakan yang meliputi penulisan detail rencana pelaksanaan, seperti identifikasi topik/masalah, orang yang akan menyampaikan informasi terkait dengan topic, sumber yang akan digunakan, rentang waktu hingga tahap rencana evaluasi.


Stage 7: Pelaksanaan atau Implementasi dari perencanaan

Merupakan tahap yang penting untuk selalu diperhatikan mengenai hal yang harus dan tidak harus dilakukan, sehingga tidak terjadi masalah yang tidak diharapkan. Pelaksanaan atau implementasi promosi kesehatan perlu direncanakan supaya dalam kenyataannya partisipan diharapkan mampu menyerap atau menerima, mengerti, memahami dan mau serta mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga diperoleh perubahan perilaku menjadi lebig sehat. hasil atau out-put yang ditunujukkan oleh partisipan setelah dilaksanakan promosi keehatan menjadi bahan dalam penusunan evaluasi.

 

Reference :

Ewles, L., & Simnett, I., (1995). Promoting Health – A Practical Guide, London : Scutari Press
Stanhope, M. dan Lancaster, J (1998). Community Health Nursing: Process and Practice for promoting Health , St. louis: Mosby Company.

Minkler, M. Ed. (1997). Community Organizing & Community Building for Health. Rutgers State University Press.

Keith Tones and Jackie Green, (2010). Health promotion : planning and strategies, 2nd ed., London : SAGE



Minggu, 26 Desember 2010

Mencapai MDG's - PNPM - Desa Siaga

Background

PNPM, Desa Siaga, MDG’S

By : Ahmad Kholid




PNPM

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri atau lebih dikenal dengan PNPM Mandiri adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Dalam PNPM Mandiri terkandung beberapa aspek pengertian, sbb:

  1. PNPM Madiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.
  2. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai.

Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Program PNPM Mandiri ini adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri.

Sedangkan tujuan khususnya adalah:

  • Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat miskin, kelompok perempuan, komunitas adat terpencil dan kelompok masyarakat lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.
  • Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar, representatif dan akuntabel.
  • Meningkatnya kapasitas pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama masyarakat miskin melalui kebijakan, program dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro-poor)
  • Meningkatnya sinergi masyarakat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat dan kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.
  • Meningkatnya keberadaan dan kemandirian masyarakat serta kapasitas pemerintah daerah dan kelompok perduli setempat dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.
  • Meningkatnya modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal.
  • Meningkatnya inovasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna, informasi dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.

 

Program utama PNPM Mandiri terdiri dari PNPM Perdesaan, PNPM Perkotaan, PNPM Infrastruktur Perdesaan, PNPM Daerah Tertinggal dan Khusus, dan PNPM Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah.


DESA SIAGA
Upaya pemberdayaan masyararakat di bidang kesehatan sudah lama tumbuh didalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pada tahun 1975 Departemen Kesehatan telah menetapkan kebijakan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa atau lebih dikenal dengan PKMD. Kebijakan tersebut dibuat guna mempercepat terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat. Pada waktu itu kegiatan PKMD diselenggarakan melalui Karang Balita, Pos Penanggulangan Diare, Pos Kesehatan, Pos Imunisasi dan Pos KB Desa yang pelayanannya masih terkotak-kotak. Melihat perkembangann tersebut pada tahun 1984 ditetapkan instruksi bersama antara Menteri Kesehatan, Kepala BKKBN dan Menteri Dalam Negeri, mencoba mmengintegrasikan kegiatan masyarakat tersebut dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang hingga saat ini tetap berkembang di Indonesia. Kegiatan Posyandu pada waktu itu ditekankan kepada 5 (lima) kegiatan yaitu  Kesehatan Ibu Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), Imunisasi, Gizi dan Penanggulangan Diare. Posyandu merupakan salah satu UBKM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat) yang ada di desa. Sementara di tingkat desa tumbuh juga berbagai macam UKBM seperti Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin), Dasolin (Dana Sosial Ibu Bersalin), kelompok jimpitan, koperasi jamban, warung obat desa, Kelompok Pemakai Air (POKMAIR), Ambulan Desa, Pos Kesehatan Desa (POSKESDES), kelompok peduli kesehatan, dll.

Dalam rangka percepatan desa sehat terutama untuk lebih mempercepat pencapaian tujuan MDG's, pada tahun 2006 Menteri Kesehatan dan jajarannya mencanangkan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui DESA SIAGA. Desa siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri.

Adapun tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Sedangkan tujuan khusus desa siaga adalah:

  • Meningkatya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan
  • Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, darurat dan sebagainya)
  • Meningkatnya keluarga sadar gizi
  • Meningkatnya masyarakat yang berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  • Meningkatnya kesehatan lingkungan desa
  • Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan

Dalam rangka memaksimalkan fungsi desa siaga, sejak tahun 2006-2009 telah dilakukan peningkatan kapasitas terkait sumber daya desa siaga. Terkait kesiapan petugas telah dilatih bidan desa siaga sebagai tenaga pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat, sedangkan terkait kesiapan masyarakat telah dilatih 2 kader dan 1 tokoh masyarakat (toma) di seluruh desa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat khususnya untuk pelaksanaan Survai Mawas Diri (SMD) dan musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Telah dikembangkan  UKBM dan di bangun poskedes di desa dalam rangka pelayanan kesehatan dasar. Jadi pengembangan desa siaga sampai tahun 2009 masih mengarah kepada upaya memenuhi kesiapan desa siaga secara fisik dan upaya penyiapan tenaga kesehatan dan kader.

Melalui KEPMENKES No. 828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota, telah ditetapkan SPM Bidang Kesehatan Kabupaten/kota No. 18 adalah DESA SIAGA AKTIF.

Desa Siaga Aktif adalah desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar, penanggulangan  bencana dan kegawatdaruratan, surveilance berbasis masyarakat yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi), penyakit, lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kementerian Kesehatan RI melalui RPJM 2010-2014 telah menetapkan salah satu indikatornya adalah Desa Siaga Aktif.

Pengembangan konsep desa siaga dilakukan secara menyeluruh bagi masyarakat Indonesia sehingga diharapkan dimasa yang akan datang konsep DESA SIAGA dapat digunakan sebagai payung "Model Pemberdayaan Masyarakat" di Indonesia dan dapat diintegrasikan oleh  seluruh kementerian yang ada di Indonesia termasuk Program PNPM Mandiri.

Mungkin desa siaga yang dikembangkan oleh kementerian kesehatan saat ini bisa disebut sebagai Desa Siaga Kesehatan. Selanjutnya mungkin dapat dikembangkan Desa Siaga Pendidikan, Desa Siaga Pertanian, Desa Siaga Lingkungan Hidup, Desa Siaga Kehutanan, Desa Siaga Koperasi dan UKM, Desa Siaga PDT. Tentunya semuanyan ini harus juga terintegrasi dengan Program PNPM Mandiri sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat di Indonesia.


MDG'S

Millenium Development Goals atau disingkat MDG's merupakan kesepakatan yang lahir pada tahun 2000 dan diprakarsai oleh 189 negara PBB, termasuk dihadiri oleh Presiden RI. Secara umum MDG'S bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia.
MDG's melingkupi 8 (delapan) agenda, yaitu:

  1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan
  2. Mewujudkan pendidikan dasar bagi semua
  3. Mendorong kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan
  4. Mengurangi tingkat kematian anak
  5. Meningkatkan kesehatan ibu
  6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lain
  7. Menjamin kelestarian lingkungan
  8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Secara umum lingkup 8 (agenda) MDG'S berkaitan sangat erat, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap aspek kesehatan.
Pencapaian agenda MDG'S yang langsung terkait kesehatan adalah agenda No. 4, 5 dan 6. Sedangkan agenda MDG'S yang terkait secara tidak langsung adalah agenda No. 1, 2, 3, 7, dan 8.

Dalam rangka pencapaian agenda MDG'S yang terkait secara langsung terhadap kesehatan, telah dilakukan berbagai upaya yang terencana dituangkan baik dalam RPJM 2004-2009 maupun dalam RPJM 2010-2014.  Dalam RPJMN Tahun 2010 - 2014 bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama termasuk kesehatan, disebutkan sasaran yang ditetapkan antara lain:

  • Meningkatnya Umur Harapan Hidup menjadi 72 tahun
  • Menurunnya Angka Kematian Bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup
  • Menurunnya Angka Kematian Ibu menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, dan
  • Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita menjadi 15%.

Dalam rangka pencapaian agenda MDG'S yang terkait secara tidak langsung terhadap kesehatan, penanganannya memerlukan lintas integrasi program dengan sektor lain. Sebagaimana kita ketahui faktor sosial dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gap dalam tingkat pendidikan, pendapatan, gender, kesulitan medan geografis, ketersediaan air bersih serta kesehatan lingkungan yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Sehingga untuk mengatasi permasalahan kesehatan pada umumnya hanya akan terwujud bila Kementerian Kesehatan bersama jajarannya selaku sektor yang bertanggungjawab, bersama dengan berbagai pihak  terkait (antara lain lintas sektor, pemerintah daerah, profesi, akademisi, swasta, pendidikan lembaga swadaya masyarakat, donor agencies, serta organisasi agama,  organisasi kewanitaan, dll)  secara bersama untuk mencapai tujuan agenda MDG'S.


SIMPULAN

Setelah menelaahan terkait PNPM Mandiri, Desa Siaga, dan MDG'S dapat disimpulkan, sbb:

  • Berbagai upaya pemberdayaan masyarakat sudah ada tumbuh di masyarakat baik melalui fasilitasi pemerintah maupun lainnya.
  • Upaya pemberdayaan masyarakat mempunyai nama yang berbeda-beda di masyarakat namun mempunyai tujuan yang sama yaitu dalam rangka menumbuhkan kemampuan masyarakat, merubah perilaku masyarakat, dan mengorganisi masyarakat dalam rangka menumbuhkan kemandirian di masyarakat.
  • PNPM Mandiri merupakan program pemberdayaan masyarakat yang sangat mulia khususnya dalam rangka menanggulangi kemiskinan sebagai salah satu pencapaian agenda MDG'S no 1 terkait penanggulangan kemiskinan.
  • Desa Siaga Kesehatan merupakan program pemberdayaan masyarakat yang lebih komprehensif di desa yang lebih menekankan kepada pencapaian agenda MDG's yang langsung terkait dengan kesehatan khususnya agenda No. 4, 5, dan 6 yaitu menurunkan kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, dan mengurangi penyakit menular.
  • Mungkin bisa disetarakan bahwa Desa Siaga adalah PNPM Kesehatan plus

 

 

REKOMENDASI

Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas, maka dapat di rekomendasikan, sbb:

  • PNPM Mandiri dan Desa Siaga adalah upaya pemberdayaan masyarakat yang sangat strategis guna mencapai tujuan komitmen Internasional agenda MDG'S yang juga merupakan komitmen bangsa Indonesia untuk memenuhinya.
  • PNPM Mandiri dan Desa Siaga merupakan upaya pemberdayaan masyarakat yang sebagian besar difasilitasi oleh pemerintah. Perlu berjalan secara beriringan dan sinergis karena keduanya sudah berjalan cukup baik di masyarakat.
  • Kesinambungan PNPM dan Desa Siaga perlu terus dijaga dan dikembangkan mengingat upaya pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang dinamis.


Pembinaan pemerintah terhadap kedua program tersebut baik PNPM Mandiri maupun Desa Siaga perlu terus ditingkatkan.

*)Pemerhati Pemberdayaan Masyarakat, Pusat Promosi Kesehatan

*)Pusat Promosi Kesehatan Depkes. RI.

*)Thanks to mas Bambang Setiaji




Minggu, 05 Desember 2010

ORALIT & LARUTAN GULA GARAM (LGG), SEDERHANA YANG SELAMATKAN JIWA

Background

ORALIT & LARUTAN GULA GARAM (LGG), SEDERHANA YANG SELAMATKAN JIWA
By: Ahmad Kholid


ORALIT


Apakah oralit itu ?

Oralit adalah larutan untuk mengatasi diare. Larutan ini sering disebut rehidrasi oral. Larutan ini mempunyai komposisi campuran Natrium klorida, kalium klorida, glukosa anhidrat dan natrium bikarbona. Larutan rehidrasi oral ini mempunyai nama generik oralit dan larutan ini sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Alphatrolit, Aqualyte, Bioralit dan Corsalit.

Tujuannya adalah untuk mencegah dehidrasi. Terdapat dua jenis oralit, yaitu oralit dengan basa sitrat (LGOS) dan oralit basa bikarbonat (LGOB).


Cara penggunaan :

Oralit tersedia dalam bentuk serbuk untuk dilarutkan dan dalam bentuk larutan diminum perlahan-lahan.


Takaran pemberian oralit untuk mengatasi diare (3 jam pertama)

  • umur < 1 tahun : 300 ml dalam 1,5 gelas
  • 1 – 4 tahun : 600 ml dalam 3 gelas
  • 5 – 12 tahun : 1,2 l dalam 6 gelas
  • dewasa : 2,4 l dalam 12 gelas


Takaran pemberian oralit untuk mengatasi diare (setiap habis buang air)

  • umur < 1 tahun : 100 ml dalam 0,5 gelas
  • 1 – 4 tahun : 200 ml dalam 1 gelas
  • 5 – 12 tahun : 300 ml dalam 1,5 gelas
  • dewasa : 400 ml dalam 2 gelas


Pengganti oralit

Bila tidak ada oralit, dapat juga digunakan larutan gula-garam, yaitu dua sendok teh gula dan setengah sendok teh garam dapur dilarutkan ke dalam satu gelas air matang.




LARUTAN GULA & GARAM (LGG)


Bahan dan alat yang diperlukan :
  • Pertama kita harus menyediakan gula pasir sebanyak satu sendok teh ,tidak lebih tidak kurang agar larutan yang akan dibuat bisa maksimal.
  • Kedua yaitu garam dapur kalau bisa yang halus agar dapat larut dengan mudah ,takaran yang diperlukan sebanyak seperempat sendok teh.
  • Ketiga adalah air masak atau air teh yang masih hangat namun tidak selagi mendidih.Takarannya sebanyak satu gelas atau sekitar 200 ml.
    Yang terakhir adalah gelas kaca yang berukuran normal dan sendok teh.

Cara membuat larutan gula garam :
  • Pertama-tama sebelum kita membuat,cucilah tangan sampai bersih agar tidak ada kuman penyakit yang menyebar.
  • Kedua  tuangkan air masak atau air teh tersebut ke dalam gelas sebanyak satu gelas penuh.
  • Ketiga masukkanlah gula pasir serta  garam dapur itu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan kedalam gelas tersebut.
  • Keempat yaitu gelas tersebut  kita aduk sampai gula dan garamnya benar-benar larut dalm air.
    Setelah selesai kita bisa langsung meminumnya.

Larutan gula garam direkomendasikan sebagai pengganti larutan oralit.selain itu larutan ini sangat dianjurkan bagi mereka yang mengalami diare karena dapat mengurangi dampak diare atau dehidrasi karena larutan ini dapat menggantikan cairan tubuh yang hilang itu.

Saran :
  • Untuk anak yang berusia dibawah dua tahun diberikan ¼ hingga ½ gelas saja.
  • Untuk anak yang berusia dua tahun keatas berikan ½ hingga 1 gelas.
  • Sedangkan jika anak yang sudah besar atau dewasa dianjurkan untuk minum sebanyak-banyaknya


TIPS DISAAT DIARE


Berikut ada beberapa cara untuk selama terjadi diare :

  • Minum air putih

Sering-seringlah minum air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare dan minum oralit yang merupakan larutan gula garam untuk membantu pembentukan energi dan menahan diare. Hindari minum kopi, teh dan lain sebagainya yang mampu merangsang asam lambung.

  • Makan makanan khusus

Hindari makan makanan yang berserat seperti agar-agar, sayur dan buah karena makanan berserat hanya akan memperpanjang masa diare. Makanan berserat hanya baik untuk penderita susah buang air besar. Bagi penderita diare sebaiknya makan makanan rendah serat dah halus seperti bubur nasi atau nasi lemes dengan lauk telur asin. Di sini nasi akan menjadi gula untuk memberikan energi, sedangkan telur asin akan memberikan protein dan garam untuk menahan mencret dan sebagai zat pembangun tubuh. Hindari makan makanan di luar sembarangan serta makanan yang pedas mengandung cabai dan lada.

  • Istirahat yang cukup

Tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang mengalami diare akan terasa lemah, lemas, lesu, kurang bergairah, dan sebagainya. Untuk itu bagi anda yang sudah merasa sangat lemas sebaiknya istirahat yang cukup guna mengembalikan stamina yang hilang.

  • Minum obat diare / ORALIT / LGG

Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter dan meminta obat yang tepat untuk mengatasi diare. Biasanya dokter akan memberikan obat mules, obat mencret, vitamin dan antibiotik. Untuk obat mules dan mencret sebaiknya diminum jika perut mulas dan diare saja dan hentikan jika sudah berhenti mules dan diare. Sedangkan untuk antibiotik wajib dihabiskan agar kuman dan bibit penyakit lainnya mati total dan tidak membentuk resistensi. Untuk vitamin terserah anda mau dihabiskan atau tidak, akan tetapi tidak ada salahnya jika dihabiskan karena vitamin baik untuk anda asalkan tidak berlebihan.


Jumat, 03 Desember 2010

PENANGGULANGAN BENCANA TSUNAMI

Background Background

PENANGGULANGAN BENCANA TSUNAMI!

 

CERITA TENTANG PERAN MASYARAKAT SAAT MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI

Editor: Ahmad Kholid

Menyambung dari cerita sebelumnya tentang simulasi bencana Tsunami, Pada edisi ini persembahan kedua tentang cerita kartun yang menggambarkan tentang simulasi menghadapi bencana Tsunami



Anda menginginkan kartun simulasi pembelajaran diatas, silahkan klik


Dibuat dan Diterbitkan Oleh Yayasan IDEP

Untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat


Dikembangkan dengan dukungan dari

BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB

dan Masyarakat Indonesia


Background

PENANGGULANGAN BANJIR

Background Background

PENANGGULANGAN BANJIR!

 

CERITA TENTANG PERAN MASYARAKAT SAAT MENGHADAPI BENCANA BANJIR

Editor: Ahmad Kholid

Menyambung dari cerita sebelumnya tentang simulasi bencana Banjir, Pada edisi ini persembahan kedua tentang cerita kartun yang menggambarkan tentang simulasi menghadapi bencana Banjir



Anda menginginkan kartun simulasi pembelajaran diatas, silahkan klik


Dibuat dan Diterbitkan Oleh Yayasan IDEP

Untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat


Dikembangkan dengan dukungan dari

BAKORNAS PB, MPBI, UNESCO, USAID, ISDR, IFRC, PMI, OXFAM GB

dan Masyarakat Indonesia


Anda Pengunjung Ke :