Followers

Advertisement (468 x 60px )

Latest News

Kamis, 22 Mei 2008

PROSES KEPERAWATAN KELUARGA


PROSES KEPERAWATAN

KELUARGA

Created By : Ahmad Kholid, S.Kep., Ns.

Proses keperawatan merupakan suatu proses pemecahan masalah yang sistematis, yang digunakan ketika bekerja pada individu, keluarga, kelompok dan komunitas (Subekti, 2005). Pada keperawatan keluarga, perawat mengonsepualisasikan keluarga sebagai unit pelayanan dan keluarga sebagai unit atau system, maka fokusnya adalah keluarga.

Langkah – Langkah Proses Keperawatan Keluarga

Asuhan keperrawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga.

TUJUAN

1. Tujuan Umum

Untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Tujuan yang ingin dicapai adalah ditingkatkannya kemampuan keluarga :

a. Mengenal masalah kesehatan keluarga.

b. Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga.

c. Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat kepada anggota keluarga yang sakit, gangguan fungsi tubuh, keluarga yang membutuhkan bantuan, sesuai dengan kemampuan keluarga.

d. Memelihara dan memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis, dan social) sehingga dapat meningkatkan kesehatan keluarga.

e. Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat (misal; puskesmas, posyandu, / sarana kesehatan lain).

PERSIAPAN YANG PERLU UNTUK PERAWAT

a. Menetapkan keluarga yang menjadi sasaran kunjungan serta kasus yang perlu ditindaklanjuti.

b. Menetapkan jadwal kunjungan dan membuat kesepakatan dengan keluarga

c. Menyiapkan perlengkapan;

§ Mempelajari riwayat penyakit individu & keluarga, rekam kesehatan keluarga.

§ Membuat catatan singkat sebagai tindak lanjut kajian keluarga.

§ Kit Primary health nursing (PHN)

§ Alat bantu penyuluhan.

Pengkajian

Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang dibinanya.

Tahap – tahap pada pengkajian :

1. Membina hubungan yang baik / terapeutik ;

§ Diawali perkenalan, sopan, ramah.

§ Menjelaskan tujuan kunjungan

§ Meyakinkan keluarga bahwa kunjungan keluarga untuk membantu

§ Menjelaskan bantuan perawat yang dapat dilakukan.

§ Menjelaskan pada keluarga tim kesehatan lain yang terlibat.

2. Pengkajian awal; sesuai data yang diperoleh dari unit pelayanan kesehatan.

3. Pengkajian lanjutan (kedua); tahap pengkajian untuk memperoleh data lebih lengkap sesuai dengan masalah kesehatan keluarga yang ada sekarang.

Data yang perlu dikaji :

1. Berkaitan dengan keluarga

§ Data demografi & sosiokultural

§ Data lingkungan

§ Struktur & fungsi keluarga

§ Stress & koping keluarga

§ Perkembangan keluarga

2. Berkaitan dengan individu / anggota keluarga

§ Fisik, mental, emosi, social, spiritual

Aturan pembuatan genogram :

1. Anggota keluarga yang lebih tua berada di sebelah kiri

2. Umur anggota keluarga ditulis pada symbol laki-laki / perempuan

3. Tahun dan penyebab kematian ditulis disebelah symbol laki-laki / perempuan.

4. Penggunaan symbol dalam genogram

Pengkajian selengkapnya terlampir di lembar belakang !!!!

Diagnosa Keperawatan

1. Pengelompokan data

Perawat mengelompokkan data hasil pengkajian data subyektif dan obyektif setiap kelompok diagnosis keperawatan.

2. Perumusan diagnosis keperawatan

a. Masalah (problem) P, adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota (individu) keluarga.

b. Penyebab (etiologi) E, adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu kepada 5 (lima) tugas keluarga.

c. Tanda (sign) S, adalah sekumpulan data subyektif dan obyektif yang diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak yang mendukung masalah dan penyebab.

Tipologi diagnosa keperawatan keluarga terdapat 3 (tiga) :

§ Diagnosa Aktual

§ Diagnosa Resiko / Resiko Tinggi

§ Diagnosa Potensial / Wellness

DIAGNOSA

CONTOH

AKTUAL

Adalah masalah keperawatan yang sedang dialami keluarga & memerlukan bantuan perawat dengan cepat.

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur khususnya pada Ny. W keluarga Tn. S yang b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan yang nyaman untuk istirahat dan tidur.

2. Perubahan peran menjadi orang tua tunggal (single parent) pada Tn. M yang b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah peran orang tua tunggal setelah istrinya meninggal.

RESIKO / RESTI

Adalah masalah keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda untuk menjadi masalah keparawatan actual dapat terjadi dengan cepat apabila tidak segara mendapat bantuan / ditangani.

1. Resiko terjadinya serangan ulang yang berbahaya khususnya pada lansia Ny. P keluarga Tn. N yang b/d ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas) yang dekat dengan tinggal keluarga.

2. Resiko tinggi gangguan perkembangan balita khususnya pada An. U yang b/d ketidakmampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita.

POTENSIAL / WELLNESS

Adalah suatu keadaan sejahtera dari keluarga ketika keluarga telah mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya & mempunyai sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.

1. Potensial peningkatan kesejahteraan khususnya Ny. S yang sedang hamil pada keluarga Tn. B.

2. Potensial tumbuh kembang yang optimal bagi anak khususnya An. Y pada keluarga Tn. W.

Masalah keperawatan dianjurkan menggunakan pendekatan (NANDA).

3. Penilaian (Skoring) Diagnosis Keperawatan

Skoring dilakukan apabila rumusan diagnosis keperawatan lebih dari satu, proses scoring menggunakan skala dirumuskan oleh Bailon & Maglaya (1978).

Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan, yang terdiri dari :

  • Tentukan skornya sesuai dengan criteria yang telah dibuat.
  • Skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot.

X bobot

Skor yang diperoleh

Skor tertinggi

  • Jumlah skor untuk semua criteria (skor maksimum sama dengan jumlah bobot, yaitu 5)

Skoring Diagnosa Keperawatan (Bailon & Maglaya, 1978)

No.

KRITERIA

SKOR

BOBOT

1.

Sifat masalah

Skala : - Tidak / kurang sehat

- Ancaman kesehatan

- Keadaan sejahtera

3

2

1

1

2.

Kemungkinan masalah dapat diatasi

Skala : - Mudah

- Sebagian

- Tidak dapat

2

1

0

2

3.

Potensial masalah untuk dicegah

Skala : - Tinggi

- Cukup

- Rendah

3

2

1

1

4.

Menonjolnya masalah

Skala : - Masalah berat, harus segera ditangani

- Ada masalah, tetapi tidak perlu ditangani

- Masalah tidak dirasakan

2

1

0

1

Penentuan prioritas sesuai dengan criteria skala :

  • Untuk criteria pertama, prioritas utama diberikan pada tidak / kurang sehat karena perlu tindakan segera dan biasanya disadari oleh keluarga.
  • Untuk criteria kedua perlu diperhatikan :

ü Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi, dan tindakan untuk menangani masalah.

ü Sumber daya keluarga; fisik, keuangan, tenaga.

ü Sumber daya perawat; pengetahuan, ketrampilan, waktu.

ü Sumber daya lingkungan; fasilitas, organisasi dan dukungan.

  • Untuk criteria ketiga perlu diperhatikan :

ü Kepelikan masalah yang berhubungan dengan penyakit.

ü Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu.

ü Tindakan yang sedang dijalankan atau yang tepat untuk memperbaiki masalah.

ü Adanya kelompok yang beresiko untuk dicegah agar tidak actual dan menjadi parah.

  • Untuk criteria keempat, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga menilai masalah keperawatan tersebut.

4. Penyusunan prioritas masalah

Contoh Prioritas :

Resiko terjatuh (terpeleset) pada lansia yang tinggal di keluarga Tn. A yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menyediakan lingkungan yang aman bagi lansia.

No.

Kriteria

Skor

Pembenaran

1.

Sifat masalah

Skala : Ancaman kesehatan

2/3 X 1 = 2/3

Bila keadaan tersebut tidak segera diatasi akan membahayakan lansia yang tinggal bersama keluarga, karena lansia setiap hari dirumah tanpa pengawasan

2.

Kemungkinan masalah dapat diubah

Skala : Mudah

2/2 X 2 = 2

Penyediaan sarana yang murah dan mudah didapat oleh keluarga (misal; sandal karet)

3.

Potensial masalah untuk dicegah

Skala : Cukup

2/3 X 1 = 2/3

Keluarga mempunyai kesibukan yang cukup tinggi, tetapi merawat orang tua yang telah lansia merupakan penghormatan & pengabdian anak yang perlu dilakukan.

4.

Menonjolnya masalah

Skala : Masalah tidak dirasakan

0/2 X 1 = 0

Keluarga merasa keadaan tersebut telah berlangsung lama dari tidak pernah ada kejadian yang mengakibatkan lansia mengalami suatu cidera (terjatuh) dirumah akibat lantai yang licin.

Total Skor

3 1/3

Rencana Askep Keluarga (Family Care Plan)

Metode dalam menyusun rencana askep keluarga

Diagnosa Keperawatan

Rencana Asuhan Keperawatan

Masalah (P)

Digunakan untuk merumuskan tujuan umum – khusus atau tujuan jangka panjang – pendek

Penyebab (E)

Digunakan untuk merumuskan criteria standar / hasil yang diharapkan sebagai tolok ukur suatu keberhasilan.

Tanda (S)

Selanjutnya merumuskan rencana tindakan / intervensi keperawatan keluarga.

Perencanaan mencakup tujuan umum dan khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan criteria dan standar yang mengacu pada penyebab, merumuskan tindakan yang berorientasi pada criteria dan standar.

Rencana tindakan pada keluarga meliputi :

1. Menstimulasi kesadaran / penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan, dengan cara; memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan keluarga, mendorong sikap emosi untuk mendukung upaya kesehatan.

2. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara; mengidentifikasi konsekuensi bila tidak melakukan tindakan, mengidentifikasi sumber yang dimiliki keluarga, diskusi tentang tipe tindakan.

3. Memberikan kepercayaan diri selama merawat anggota keluarga yang sakit, dengan cara; demonstrasi, menggunakan alat dan fasilitas dirumah, mengawasi keluarga melakukan perawatan.

4. Membantu keluarga untuk memelihara (memodifikasi) lingkungan.

5. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada disekitar.

Hal penting dalam menyusun rencana :

1. Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah, dan mempunyai jangka waktu yang sesuai dengan kondisi klien.

2. Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan diobservasi dengan pancaindra perawat yang obyektif.

3. Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang dimiliki oleh keluarga dan mengarah ke kemandirian klien sehingga tingkat ketergantungan dapat diminimalisasi.

Contoh :

Tujuan jangka panjang

Lansia selama tinggal di keluarga Tn. A tidak terjatuh.

Tujuan jangka pendek

Setelah implementasi keperawatan yang ke – 5 melalui kunjungan rumah, keluarga menyediakan sarana yang aman bagi lansia.

Kriteria hasil

Pengetahuan

1. Keluarga dapat menyebutkan bahaya lingkungan (lantai yang licin).

2. Keluarga dapat menyebutkan akibat yang diderita lansia bila jatuh.

3. Keluarga dapat menyebutkan cara mencegah lansia terjatuh akibat lantai yang licin.

Sikap

4. Keluarga mengkomunikasikan lingkungan yang membahayakan lansia dengan anggota keluarga lainnya.

5. keluarga mampu memutuskan untuk menyediakan sarana yang aman bagi lansia.

Tindakan / psikomotor

6. Keluarga menyediakan sarana yang aman bagi lansia

7. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan rumah menjadi aman bagi lansia.

Rencana tindakan

1. Mendiskusikan tentang bahaya lantai licin

2. Mendiskusikan akibat bila lansia terjatuh

3. Meendiskusikan cara mencegah lansia terjatuh

4. Mengajarkan kepada keluarga untuk menyelesaikan masalah lansia dengan keluarga

5. Mengajarkan kepada keluarga setiap diskusi perlu diambil suatu keputusan yang terbaik

6. Tanpa adanya kesepakatan dengan keluarga, keluarga sudah melaksanakan pencegahan pada lansia (misal; lansia sudah diberikan sandal karet, tongkat, dll)

7. Bersama keluarga memodifikasi lingkungan yang aman.

Contoh penulisan Rencana :

Tujuan

Kriteria

Hasil / Standar

Intervensi

Setelah dilakukan tindk. Keperawatan …………………………

………………………..

Pengetahuan

Tindakan

1. keluuarga dapat melakukan ………

2. dst.

7. Keluarga dapat memodifikkasi ………

1. Diskusikan ………..

2. dst.

7. Bersama keluarga ……………………

Implementasi

Pada tahap ini perawat diharapkan tidak melakukan tindakan sendiri, melainkan bekerjasama dengan keluarga, tim lain, melakukan kontrak, agar keluarga mempunyai kesiapan fisik dan psikis.

Contoh Format Implementasi

Tanggal & Waktu

No. Diag. Kep.

Implementasi

8 Juni 2008

15.00 – 16.00

1

Pendidikan kesehatan tetang………….dan ……….. dengan keluarga Tn. A yang dihadiri …………, kontrak selanjutnya tanggal ……….jam…….untuk kegiatan……………..

Materi dan media yang akan diberikan sesuai dengan rencana implementasi jangan sampai lupa.

Evaluasi

Evaluasi digunakan dengan menggunakan SOAP

S : adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subyektif oleh keluarga secara subyektif oleh keluarga setelah dilakukan implementasi.

O : keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif setelah implementasi.

A : merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subyektif dan objektif keluarga yang dibandingkan dengan criteria dan standar pada rencana keperawatan.

P : adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.

Contoh evaluasi :

Tanggal & Waktu

No. Diag. Kep.

Evaluasi

15 Juni 2008

16.00

1

S : Keluarga mengatakan bahwa masih ada

materi minggu lalu yang tidak dipahami, yaitu

tentang ………….

O : Keluarga dapat menjawab pertanyaan tentang

………..keluarga tidak dapat menjelaskan

kembali tentang …………

A : Implementasi yang dilaksanakan seminggu

lalu dengan metode ceramah dan media

brosur, belum sepenuhnya dimengerti oleh

keluarga. Perlu metode dan media lain yang

efektif.

P : Berikan penkes ulang sesuai kesepakatan

dengan keluarga, metode dengan

demonstrasi, metode ditambah dengan bahan

yang sesuai dengan kondisi di keluarga.

Loading...

Anda Pengunjung Ke :